News Berita

Dony Oskaria Nilai Buyback Saham BUMN Wajar, Sebut Fundamentalnya Masih Kuat

COO Danantara Dony Oskaria menegaskan fundamental BUMN saat ini masih bagus. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Dony Oskaria Nilai Buyback Saham BUMN Wajar, Sebut Fundamentalnya Masih Kuat
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, bertemu dengan Direktur Strategic Business Development & Portfolio PT Telkom Indonesia, Seno Soemadji, untuk membahas pemangkasan anak usaha Telkom di Danantara, Senin (25/5/2026). Foto: Dok. BP BUMN
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, bertemu dengan Direktur Strategic Business Development & Portfolio PT Telkom Indonesia, Seno Soemadji, untuk membahas pemangkasan anak usaha Telkom di Danantara, Senin (25/5/2026). Foto: Dok. BP BUMN

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menilai aksi buyback saham yang dilakukan sejumlah perusahaan pelat merah merupakan langkah yang wajar di tengah tekanan pasar. Menurutnya, banyak saham BUMN saat ini diperdagangkan pada level yang tidak mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang sebenarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Dony di tengah mulai membaiknya pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia melihat pemulihan pasar menjadi sinyal positif bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan kinerja emiten nasional masih terjaga.

Pada Rabu (10/6), IHSG ditutup menguat 155,728 poin atau 2,71 persen ke 5.902,376.

"IHSG membaik dua hari ini, jadi kita harus optimis terus menjaga. Karena semuanya transparan, menjadi clear buat masyarakat. Jadi ini momentum yang baik untuk kembali kita rebound ya," kata Dony kepada wartawan di Kompleks Parlemen RI, Rabu (10/6).

Dony menjelaskan buyback merupakan mekanisme yang lazim dilakukan pemegang saham ketika harga saham perusahaan berada jauh di bawah nilai fundamentalnya. Dalam kondisi seperti itu, aksi pembelian kembali saham justru dinilai dapat memberikan nilai tambah baik bagi perusahaan maupun pemegang saham.

"Sebetulnya kan buyback itu mekanisme normal yang dilakukan oleh pemilik perusahaan ketika harga sahamnya itu tidak sama dengan fundamentalnya. Kan sayang," ujar Dony.

Dony mengatakan banyak emiten BUMN masih memiliki kinerja yang solid, mulai dari sektor perbankan hingga infrastruktur. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham di pasar.

"Bahwa memang banyak saham-saham kita yang fundamentalnya sangat bagus. Coba lihat ya, saham-saham kita bagus, perbankan kita bagus, infrastruktur kita bagus, performanya bagus," kata Dony.

Meski begitu, Dony menegaskan tidak ada instruksi khusus agar seluruh BUMN melakukan buyback saham. Keputusan tersebut tetap menjadi bagian dari strategi korporasi masing-masing perusahaan sesuai kebutuhan dan kondisi pasar.

"Tidak diinstruksikan, tetapi ya semua itu normal kan. Bahwa setiap, saya rasa perusahaan lain juga melakukan yang sama," ungkap Dony.

Dony secara khusus menyoroti sektor perbankan BUMN. Menurutnya saat ini Himbara berada dalam kondisi sangat sehat. Kinerja dan fundamental bank-bank besar pelat merah, kata dia, dapat dilihat langsung melalui laporan keuangan yang dipublikasikan secara terbuka.

"Fundamentalnya bank-bank kita itu dalam posisi yang terbaik hari ini. Bisa dilihat kok, kan mereka bank terbuka. Bisa dilihat bukunya, mereka dalam posisi yang sangat luar biasa bagus," ujar Dony.

Karena itu, ia menilai pelemahan harga saham yang tidak sejalan dengan kondisi fundamental justru membuka peluang bagi perusahaan untuk melakukan buyback.

"Jadi kalau sahamnya turun kan sayang, ya kita (Danantara) ambil saja," katanya.

BP BUMN Ajukan Anggaran Rp 238 Miliar ke DPR pada 2027 untuk Pengawasan dan SDM

Ilustrasi Gedung Kementerian BUMN. Foto: Shutterstock
Ilustrasi Gedung Kementerian BUMN. Foto: Shutterstock

Dony mengungkapkan BP BUMN mengajukan anggaran kepada DPR Rp 238 miliar untuk program pada 2027. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat fungsi pengawasan BUMN, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta kebutuhan kapital organisasi.

"Yang kita minta itu kurang lebih sekitar Rp 238 miliar. Kecil kan? Iya, miliar," kata Dony.

Menurutnya, anggaran tersebut diperlukan seiring bertambahnya fungsi dan tanggung jawab BP BUMN, khususnya dalam aspek pengawasan terhadap perusahaan pelat merah. Selain itu, badan tersebut juga membutuhkan dukungan anggaran untuk membangun kapasitas organisasi dan menyiapkan talenta yang akan mengelola BUMN ke depan.

Dony menjelaskan sebagian anggaran akan dialokasikan untuk program pendidikan dan pengembangan SDM. Upaya tersebut dinilai penting karena kualitas pengelolaan BUMN juga bergantung pada ketersediaan SDM yang kompeten.

"Itu untuk program pendidikan, kebutuhan kapital, sama juga fungsi pengawasan," tutur Dony.

Buka sumber asli