Dolar AS dan Harga Minyak Mentah Diprediksi Masih Menguat Pekan Depan
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuabi menilai ketegangan geopolítik masih menjadi pendorong menguatnya rupiah dan harga minyak mentah dunia. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuabi memproyeksikan pergerakan dolar AS dan harga minyak mentah masih akan naik pada pekan depan dibayangi ketegangan geopolitik global. Perang di Timur Tengah dan Eropa Timur dinilai menjadi faktor utama yang memicu fluktuasi harga komoditas dan mata uang global.
“Jadi ada indikasi bahwa dolar Amerika ini akan mengalami penguatan,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Minggu (10/5).
Selain dolar AS, harga minyak mentah dunia juga diprediksi melanjutkan penguatan. Ia menyebut minyak mentah WTI diperkirakan bergerak di level support USD 92,90 dan resistance USD 113.
“Jadi ada indikasi harga minyak minggu depan itu akan menguat kembali di USD 113,” ujar Ibrahim.
Di sisi lain, Ibrahim mengatakan harga emas dunia dan logam mulia masih berpotensi bergerak fluktuatif. Emas dunia sebelumnya ditutup di level USD 4.616 per troy ounce, sedangkan harga logam mulia berada di Rp 2.796.000 per gram.
Menurutnya, apabila terjadi koreksi, harga emas dunia berpotensi turun ke support pertama di level USD 4.520 per troy ounce dan support kedua di USD 4.389 per troy ounce. Sementara harga logam mulia diperkirakan bisa turun hingga Rp 2.750.000 per gram.
Namun, jika sentimen pasar kembali positif terhadap emas, harga diproyeksikan naik ke resistance pertama di level USD 4.702 per troy ounce dan resistance kedua di USD 4.851 per troy ounce. Sedangkan harga logam mulia diperkirakan bisa menyentuh Rp 2.900.000 per gram.
“Logam mulianya kemungkinan besar ini akan mencapai di Rp 2.900.000. Ya ingat Rp 2.900.000 per gram,” ungkap Ibrahim.

Ibrahim menjelaskan gejolak geopolitik masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasar global. Ketegangan antara Rusia dan Ukraina, dan konflik di Timur Tengah, membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.
Ia menyoroti memanasnya situasi di kawasan Laut Oman dan Selat Hormuz setelah terjadi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat. Meski begitu, Ibrahim menilai pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai gencatan senjata masih memberikan harapan terhadap meredanya ketegangan.
“Kita harus lihat bahwa walaupun kemarin terjadi baku tembak, Presiden Trump tetap menyatakan bahwa gencatan senjata walaupun sedikit rapuh tapi masih tetap berlaku,” ujar Ibrahim.
Selain geopolitik, pasar juga mencermati dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi global. Ibrahim mengatakan kenaikan harga energi membuat bank sentral global berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.