News Berita

Dokter Bagikan Cara Evakuasi Korban kecelakaan: Jangan Langsung Kasih Minum

dr. Ngabila Salama membagikan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengolong korban kecelakaan. #kumparanSAINS

Dokter Bagikan Cara Evakuasi Korban kecelakaan: Jangan Langsung Kasih Minum
Seorang pria memandangi puing-puing di lokasi kejadian pascatabrakan maut yang melibatkan kereta komuter (Commuter Line) dan kereta api jarak jauh di Bekasi, pinggiran Jakarta, Selasa (28/04/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Seorang pria memandangi puing-puing di lokasi kejadian pascatabrakan maut yang melibatkan kereta komuter (Commuter Line) dan kereta api jarak jauh di Bekasi, pinggiran Jakarta, Selasa (28/04/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Kecelakaan kereta api antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam, kembali memunculkan pertanyaan penting soal pertolongan pertama pada korban kecelakaan.

Di tengah kepanikan, tak sedikit warga spontan membantu korban dengan cara mengangkat tubuh atau memberi minum. Padahal, tindakan itu justru bisa memperparah kondisi korban.

Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama, MKM., mengingatkan bahwa dalam situasi kecelakaan, prinsip utama pertolongan pertama adalah do no harm atau jangan sampai niat menolong malah menambah cedera.

Dalam situasi kecelakaan, yang terpenting bukan hanya cepat, tapi tepat. Penanganan yang salah dalam beberapa menit pertama bisa berdampak jangka panjang pada keselamatan korban.- dr. Ngabila Salama, MKM., Praktisi Kesehatan Masyarakat -

Menurut dia, korban kecelakaan pada umumnya tidak dianjurkan langsung diberi makan atau minum. Alasannya, korban bisa saja mengalami penurunan kesadaran tanpa disadari sehingga berisiko tersedak atau aspirasi. Selain itu, korban mungkin mengalami cedera dalam atau membutuhkan operasi darurat yang mengharuskan kondisi lambung kosong.

dr Ngabila Salama, MKM., Praktisi Kesehatan Masyarakat. Foto: Instagram/@ngabilasalama
dr Ngabila Salama, MKM., Praktisi Kesehatan Masyarakat. Foto: Instagram/@ngabilasalama

Ngabila menjelaskan, minum hanya boleh diberikan jika korban benar-benar sadar penuh, tidak mengalami cedera berat, tidak mual atau muntah, serta dalam posisi aman.

Tak hanya soal memberi minum, Ngabila juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang buru-buru mengangkat korban setelah kecelakaan terjadi. Menurut dia, tindakan ini sangat berbahaya jika korban mengalami cedera kepala, patah tulang, atau trauma tulang belakang.

“Gerakan yang salah bisa memperparah cedera, bahkan menyebabkan kelumpuhan,” katanya.

Korban hanya boleh dipindahkan jika ada ancaman langsung seperti kebakaran, risiko ledakan, atau potensi tertabrak kembali. Itupun harus dilakukan dengan menjaga posisi kepala dan leher tetap lurus.

Sejumlah personel Basarnas melakukan simulasi penyelamatan korban kecelakaan. Foto: ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin
Sejumlah personel Basarnas melakukan simulasi penyelamatan korban kecelakaan. Foto: ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

Dalam situasi darurat, Ngabila menyarankan masyarakat melakukan langkah sederhana dengan prinsip cek cepat dan aman. Berikut langkah-langkahnya:

  • Memastikan lokasi aman agar penolong tidak menjadi korban berikutnya, termasuk pastikan tidak ada risiko tambahan seperti api, listrik, atau kendaraan lain

  • Cek respons dan napas korban

  • Jika korban tidak bernapas dan penolong memiliki kemampuan, bantuan hidup dasar atau CPR bisa segera dilakukan

  • Jika ada perdarahan, luka harus ditekan menggunakan kain bersih atau perban untuk menghentikan darah keluar

  • Jangan terlalu banyak menggerakkan korban

  • Jaga posisi dan kondisi korban: Usahakan kepala dan leher tetap lurus; jika muntah dan tidak sadar, miringkan badan; jaga tubuh korban tetap hangat

  • Jangan langsung diberi makan atau minum

  • Jangan asal mencabut benda tajam yang tertusuk atau menancap pada korban kecelakaan jika kita tidak mengetahui dengan pasti posisi benda yang tertusuk

  • Segera hubungi bantuan medis

Dalam kecelakaan besar seperti tabrakan kereta, proses penanganan biasanya dilakukan dengan sistem triase, yakni memilah korban berdasarkan tingkat keparahan kondisi. Prioritas diberikan kepada korban kritis yang masih memiliki peluang besar untuk diselamatkan.

Ngabila menilai, edukasi publik soal bahaya penanganan yang salah masih perlu diperkuat. Sebab, banyak masyarakat memiliki niat membantu, tetapi belum memahami prosedur dasar pertolongan pertama.

“Menolong itu penting, tapi harus dengan cara yang benar. Jangan panik, jangan langsung pindahkan korban, jangan langsung kasih minum. Selamatkan nyawa tanpa menambah cedera,” pungkasnya.

Buka sumber asli