News Berita

"Dewana": Bucin ala Sansekerta

"Dewana" bisa menjadikan seseorang pada akhirnya menemukan jalan penghambaan spiritual. Di samping itu, "dewana" bisa menjadi katalisator kreativitas yang menghadirkan karya sastra berkualitas tinggi.

"Dewana": Bucin ala Sansekerta
Ilustrasi kreasi Gemini AI.
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kata “dewana” tentu jarang ada yang mendengar dalam percakapan sehari-hari. Tidak terlalu mudah pula, ditemukan di dalam tulisan-tulisan modern, kecuali sesekali muncul dalam teks puisi. Bagi penyair modern, penggunaannya untuk membangkitkan “roh” kepuitisan yang magis dan sentuhan suasana arkais pada larik-larik gubahannya.

Sementara itu, kata “dewana” di tangan para penyair kontemporer menjadi peranti estetika untuk merambahi wilayah makna yang dekat dengan keterasaan yang lebih padat, sekaligus romantis, tapi pun menyemburatkan obsesi mendalam yang lebih dahsyat dari “cinta”, dari “tresna”. Saya sebetulnya tidak sampai hati menyebut “tergila-gila”. Tetapi, memang begitulah capaian derajat intensitasnya.

Atau, dengan bahasa gaul para kawula muda sekarang, tingkat derajat intensitas kata “dewana” setara dengan akronim slang “bucin” yang memiliki kepanjangan “budak cinta”. Tergelepar tak berdaya di depan dua kaki orang yang dicintai. Nah, karena secara etimologis kata “dewana” itu berasal dari bahasa Sansekerta, bisa kan kalau ia mendapat sebutan “bucin ala Sansekerta”?

Hasil tangkapan layar dengan pengubahan warna latar belakang merah dari kreasi Meta AI.
Hasil tangkapan layar dengan pengubahan warna latar belakang merah dari kreasi Meta AI.

Sebagaimana tampak pada tangkapan layar di atas, kata atau lema (entri) “de.wa.na” (versi dengan tanda titik [.] untuk pemisahan silabel atau suku kata) sudah masuk di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan. Ia tergolong kelas (a)jektiva dan ragam bahasa (kl)asik. Secara etimologi, sebelum menemukan bentuknya yang sekarang, yaitu “dewana”, mengalami proses penyerapan langsung dari kata bahasa Sansekerta, “dhuwana” atau “dhuvana”.

Adapun kata “dhuwana” dalam bahasa Sansekerta memiliki makna “terbakar, terangsang, atau terguncang dalam konteks secara emosional”. Manakala kemudian bahasa Melayu, lalu bahasa Indonesia menyerapnya, terjadilah pergeseran makna yang mewadahi deskripsi keadaan batin seseorang yang tengah tertimpa kegundahan akibat keterpesonaan mendalam sehingga menyebabkan perasaan seseorang terbakar api gejolak asmara yang sedemikian berkobar-kobar.

Adapun proses penyerapan kata “dewana” berlangsung pada era pengaruh Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara. Banyak kosakata dari bahasa Sansekerta yang mengalami pengadopsian ke dalam bahasa Melayu Klasik lewat pergaulan budaya dan kitab-kitab sastra. Penyerapan itu melalui adaptasi fonologis dan morfologis dengan mempertahankan akar kata. Akan tetapi, menyediakan pula ruang pergeseran makna yang sesuai dengan konteks sosio-kultural masyarakat Melayu pada saat itu.

Dalam bahasa Sansekerta, selain “dewana" (देवाना) yang bermakna “sangat tergila-gila karena tengah mabuk asmara. Terdapat pula “unmada” (उन्माद) yang bermakna “kegilaan, mania, atau kondisi terobsesi”. Dan, juga “vātula” (वातुल) merujuk pada “orang yang mendapat sebutan gila karena memiliki sifat angin-anginan; orang yang bertindak berdasarkan perasaan hatinya”.

Hikayat dan Syair Lama

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Begitulan kata “dewana”. Ia lebih lazim ditemui di dalam naskah-naskah Melayu klasik. Terutama dalam hikayat-hikayat dan syair-syair lama. Kata ini muncul dalam konteks pujangga tempo lampau pada saat mendeskripsikan kondisi kejiwaan karakter ciptaannya telah mengalami kehilangan akal sehat atau mabuk kepayang manakala hatinya terlanda bujuk rajuk si juita cinta.

Untuk sedikit memberikan gambaran di dalam teks hikayat, kata “dewana” ini misalnya muncul dalam kalimat:

Tiada terperi lagi kesengsaraan hati Laksamana akibat mabuk asmara, siang dan malam ia meratap mengenang sang permaisuri, sungguh ia telah dewana oleh pesona cinta”.

Atau, dalam teks syair:

“//Paras elok tiada terperi/ Membuat hati dewana sendiri/ Siang malam mabuk berahi/ Lupa dunia di dalam hati//.

Konsep maknawi “berahi” di sini lebih merujuk pada “perasaan tertarik kepada lawan jenis yang sedemikian kuat”.

Kata “dewana” bisa jadi bertalian dengan dewa yang menghunjamkan pengaruh, sehingga gejolak cinta itu menyebabkan seseorang (biasanya lelaki) yang mengalaminya tidak mampu mengontrol perilaku emotifnya dengan bijaksana. Dalam teologi Hindu ada Dewa Kamadewa. Atau, yang dalam dunia pewayangan Jawa bernama Kamajaya.

Dewa Kamajaya ini memiliki senjata busur (gendewa) dengan lima anak panah yang ujungnya berupa bunga. Tiap bunga mempunyai karakteristik efek psikologis spiritual yang unik. Bunga teratai putih (Aravinda), merepresentasikan simbol pesona awal, daya tarik visual. Pandangan pertama yang mengantarkan seseorang pada tarikan pesona pada keindahan fisik atau aura lawan jenis.

Ada pula bunga asoka (Ashoka), simbol ketiadaan kesedihan. Anak panah yang berujung bunga asoka ini beroperasi ketika pesona kian mengutus "duo pikiran dan perasaan" untuk beralih dari kesedihan atau rutinitas keseharian menuju kegembiraan serta antusiasme yang belum tersedia sebelumnya.

Kemudian anak panah yang berujung bunga mangga (Chota). Simbol yang mewakili kegairahan atau kerinduan dalam bercinta. Sifat bunga mangga yang mempunyai asosiasi dengan musim semi dan madu. Simbol dari semakin tumbuh hasrat untuk bersatu serta cinta yang semakin mengguyurkan kemanisan berikut keindahan madu kebahagiaan.

Selanjutnya, ada anak panah yang ujungnya berupa bunga melati (Navamalika). Simbol kelembutan dan pengabdian. Pada tahapan ini, perjalanan cinta tidak lagi hanya berhenti di titik hasrat. Akan tetapi, telah bertumbuh kembang menjadi perasaan yang lebih dewasa, yaitu rasa kasih sayang yang bersendikan ketulusan, kemurnian, serta kenyamanan.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Dan terakhir, anak panah yang berujung bunga teratai biru (Nilotpala). Simbol dari cinta sejati yang ditandai dengan penyerahan diri sepenuhnya. Ini merupakan anak panah terakhir yang kesaktiannya paling kuat. Kondisi jiwa ketika seseorang yang hatinya terkena anak panah yang ujungnya berupa bunga teratai biru ini berada dalam situasi jiwani mabuk kepayang, jatuh cinta secara total. Siap dengan jalinan komitmen tanpa syarat.

Secara filosofis, kelima anak panah yang tiap ujungnya berupa bunga teratai putih (Aravinda), asoka (Ashoka), mangga (Chota), melati (Navamalika), teratai biru (Nilotpala) mendeskripsikan perjalanan cinta manusia dari ketertarikan secara indrawi hingga penyatuan jiwa yang penuh ketulusan dan mewujud sebagai keutuhan.

Ketika anak panah berujung bunga dari Dewa Kamajaya mengenai sasaran dapat menyebabkan seseorang mengalami unmada (mabuk kepayang lantaran cinta) atau dengan bahasa yang lebih dramatis mengacu pada “kegilaan, mania, atau kondisi terobsesi” (lihat uraian sub-bahasan sebelumnya).

Selain itu, anak panah Dewa Kamajaya yang berujung bunga itu, apabila mengenai hati akan mengakibatkan pula murchana (hilang kesadaran lantaran dekapan pesona asmara). Dalam menunaikan tugasnya, Dewa Kamajaya mendapatkan pendampingan dari istrinya, Dewi Ratih (atau Kamaratih), dewi yang merawat keindahan, kegairahan, dan kesetiaan cinta.

Sisi Sublim

Dalam bahasa Sansekerta, terdapat kalimat “Apurnah premnah kavim divasvapne jivati” (अपूर्णः प्रेम्णः कविं देवस्वप्ने जीवति). Maknanya kira-kira “Cinta yang tak terbalas menyebabkan sang pujangga tetap hidup dalam mimpi yang indah”. Adapun kata yang terkait dengan “dewana” yang merujuk pada dewa atau hal-hal ketuhanan dalam kalimat tersebut, yaitu “devasvapne”.

Kata “devasvapne” merupakan gabungan dari dua akar kata bahasa Sansekerta. Yakni “deva” (dewa, illahi, atau surgawi) dengan “svapne” (mimpi atau lamunan). Dengan demikian, secara harfiah bertalian dengan “mimpi atau visi ilahi” yang menjadi pengalaman batin sang pujangga (kavim).

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Bisa jadi ini adalah sisi sublim dari “dewana” yang tidak terbalas, ketika sang subjek pelaku melakukan transendensi ego. Proses atau keadaan tatkala seseorang mampu melampaui ego atau “aku” individualnya. Seseorang yang berkemampuan memerdekakan diri dari belenggu batasan pikiran, kepentingan pribadi yang sempit, dan identitas diri yang kaku. Dengan demikian, seseorang itu dapat menghubungkan diri dengan sesuatu yang lebih luas.

Dari perspektif psikologi transpersonal dan pelbagai tradisi spiritual, transendensi ego mengacu pada kemampuan melepaskan dari sifat mementingkan diri sendiri. Dengan tujuan, agar tercapai kesadaran untuk lebih mempersembahkan kepedulian dan rasa empati yang tulus serta ikhlas terhadap sesama makhluk hidup atau alam semesta.

Jean-Paul Charles Aymard Sartre atau yang lebih dikenal dengan Jean-Paul Sartre (21 Juni 1905 - 15 April 1980). Filsuf Prancis ini dalam esai La Transcendance de l'Ego: Esquisse d'une description phénoménologique (Transendensi Ego: Garis Besar Deskripsi Fenomenologis) di Jurnal Filsafat Recherches Philosophiques Volume VI, 1936-1937 berpandangan, bahwa kesadaran pada dasarnya murni dan kosong dari “diri” (ego). Ego bukan bawaan lahir atau “penghuni” di dalam kesadaran, melainkan sesuatu yang berada di luar sana di dunia objek.

Poin- poin utama pandangan Jean-Paul Sartre, yaitu kesadaran manusia senantiasa terarah kepada suatu objek di luar dirinya. Kesadaran tentang sesuatu. Kemudian ego baru terbentuk manakala kesadaran menoleh ke belakang dan merenungkan tindakan serta pengalaman masa silamnya. Ego merupakan produk atau objek dari kesadaran. Bukan sumber dari kesadaran.

Pandangan Jean-Paul Sartre ini merupakan sanggahan terhadap pemikiran filsuf Jerman Edmund Gustav Albrecht Husserl (8 April 1859 - 26 April 1938) yang sebelumnya meyakini adanya “ego transendental” sebagai pusat penyatuan kesadaran.

Pandangan Edmund Husserl ini terdapat dalam bukunya Ideen zu einer reinen Phänomenologie und phänomenologischen Philosophie (Gagasan untuk Fenomenologi Murni dan Filsafat Fenomenologis) yang terbit pada 1913 dan Cartesianische Meditationen (Meditasi Kartesius) yang terbit pada 1931.

Penolakan Sartre tentang gagasan ego sudah ada sejak lahir (bawaan), membuka jalan bagi eksistensialismenya, bahwa manusia mempunyai kebebasan mutlak untuk menciptakan esensi dan identitasnya sendiri.

Oleh karena itu, Jean-Paul Sartre dan wanita filsuf yang asal Prancis juga, Simone de Beauvoir (9 Januari 1908 - 14 April 1986), memandang cinta sebagai bagian dari “kekuatan dewana”, dan merupakan bentuk pengakuan serta kebebasan individu.

"Dewana" yang autentik menampik untuk menjadikan pasangan sebagai objek atau milik semata. "Dewana" yang sublim merupakan ruang bagi dua manusia berlawanan jenis dukung-mendukung guna bertumbuh dan memberikan makna bagi eksistensi mereka.

Sisi sublim dari “dewana” yang tidak memperoleh respons balasan terlokasi pada transendensi ego tadi. Perasaan ini memurnikan “dewana” dari motif transaksional, keinginan adanya imbal balik keuntungan. Sisi sublim dari "dewana" yang tidak tertanggapi, manakala ada pengagungan terhadap rasa duka lara menjadi energi kreatif. Untuk kemudian berselancar dalam pencarian spiritual nan mendalam. Bahkan, menghadirkan keikhlasan pengorbanan tanpa penyesalan.

Makna keagungan dari "dewana" yang bertepuk sebelah tangan, tampak pada adanya peleburan ego. Sebagaimana Sartre dan Beauvoir, tanpa tuntutan kepemilikan satu sama lain. Manakala seseorang (biasanya lelaki) mengalami "dewana" tanpa syarat, tanpa asa untuk mendamba kucuran balasan, itu adalah bentuk penghambaan spiritual tertinggi karena berdiri di atas landasan fondasi keikhlasan yang kokoh.

Katalisator Kreativitas

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Keagungan "dewana" tiada terbalas juga bisa menjadi katalisator kreativitas. Tidak sedikit karya sastra, karya seni, dan karya musik kelas dunia yang lahir dari rasa patah hati atau kerinduan yang tak kuasa tersampaikan. Nestapa lara itu kemudian menjadi karya yang menggugah jiwa dan menjadikan banyak orang kagum akan keindahannya hingga dewasa ini.

Patah hati. "Dewana" yang tidak terbalas. Dapat menjadi katalisator kreativitas bagi kelahiran novel. Sebut saja Die Leiden des jungen Werthers (1774) karya sastrawan Jerman Johann Wolfgang von Goethe (28 Agustus 1749 - 22 Maret 1832). Berdasarkan pengalaman pribadinya terjerat gejolak dewana yang tak bersambut, Goethe menulis novel epistolari (novel surat) dengan bahasa yang sangat puitis, emosional, dan menunjukkan luapan perasaan ekstrem.

Berikut secuplik kutipan yang mendeskripsikan gemuruh "dewana" yang tak bersambut:

Aku memiliki begitu banyak, tetapi cintaku padanya menyerap semuanya. Aku memiliki begitu banyak, tetapi tanpanya aku tidak memiliki apa pun.

Seratus kali aku hampir memeluknya. Astaga. Betapa menyiksanya melihat begitu banyak keindahan berlalu dan kembali di hadapan kita, namun tidak berani meraihnya. Dan meraih adalah naluri manusia yang paling alami. Bukankah anak-anak menyentuh semua yang mereka lihat? Dan aku?

Novel yang kalau judulnya diindonesiakan secara bebas kira-kira Kesedihan Pemuda Werthers itu adalah karya klasik era Sturm und Drang (1770 - 1780-an). Gerakan sastra dan seni di Jerman yang begitu mengagungkan emosi ekstrem, individualisme, pemberontakan melawan otoritas, dan ekspresi penderitaan batin.

"Dewana" yang menghamburkan nestapa tidak hanya berupa asmara yang tak menemu balas saja. Akan tetapi, variasi tematik lainnya bisa juga menjelma sebagai kerinduan untuk bersatu yang tidak dapat mewujud. Penyair Italia Dante Alighieri (1265 - 1321) menulis La Vita Nuova (Kehidupan Baru) pada 1292 - 1294.

Terdiri atas 25 soneta (puisi 14 baris, dua bait pertama kuatrin, dua bait kedua terzina, skema rima abab abab cde cde), 1 ballata (puisi narasi, ada pengantar, pengisahan, dan penutup), dan 4 canzone (puisi lirik 5 -7 bait, campuran baris 11 dan 7 suku kata, tiap bait ada bagian depan dan belakang).

La Vita Nova pada intinya merupakan ekspresi "dewana" seorang Dante Alighieri dalam bentuk puisi. Karya ini mengusung tema platonik dan spiritual kepada seorang bangsawan wanita bernama Beatrice Portinari. Gambaran transformasi spiritual Dante kepada sosok wanita yang telah menghabiskan semua persediaan cinta yang ada di dalam dadanya.

Poin-poin utama narasi dalam antologi puisi karya Dante ini, yaitu tentang kisah cinta pertama yang mulai tumbuh di hati sang pujangga ketika pertama kali bertemu dengan Beatrice, kala usia keduanya masih sembilan tahun. Itu adalah cinta pertama bagi sang pujangga dan begitu menanamkan kesan yang sedemikian mendalam di sepanjang hayatnya.

Makna judul antologi puisi Dante untuk Beatrice, yaitu La Vita Nova, Kehidupan Baru, merujuk pada perubahan radikal dalam kehidupan Dante setelah dia mengekspresikan perasaan duka nestapa "dewana"-nya menjadi karya sastra dan seolah mengobarkan pengabdian spiritual. Hal itu terjadi setelah kematian Beatrice yang begitu tiba-tiba pada 8 Juni 1290 dalam usia 24 tahun.

Agaknya ini klop dengan tahun proses penulisannya pada 1292 - 1294. Dengan demikian, memang La Vita Nova, ditulis Dante setelah kematian Beatrice. Curahan rasa duka nestapanya tercurah tuntas dalam karya sastra tersebut. Dia pun mengawetkannya sebagai penuntun untuk energi kreativitas puncaknya menuju ke adikarya Divine Comedy.

Di dalam La Vita Nova terkuak pula, setelah kepergian sang pujaan hati untuk selama-lamanya, muncul Donna Gentile, seorang wanita muda berhati lembut, yang menghibur Dante. Wanita muda itu merupakan simbol Filsafat (karena itu juga mendapat sebutan Donna Filosofia) yang untuk sementara menggantikan Beatrice sebagai pelipur lara dan pusat perhatian sang pujangga.

Meskipun demikian, pada akhir puisi naratif itu Dante mengikrarkan janji puitis, mengabdikan hidupnya guna menulis tentang Beatrice. Karena dia, bagi Dante adalah Donna Angelicata (Wanita Malaikat). Makhluk surgawi yang memiliki peran untuk menjembatani manusia dengan Tuhan. Atau, makhluk pembawa rahmat.

Kemudian Wuthering Heights karya Emily Brontë (30 Juli 1818 - 19 Desember 1848). Novel yang terbit pada 1847, sekitar setahun sebelum kematian sastrawati Britania Raya itu, mengisahkan cinta destruktif karakter Heathcliff dengan Catherine. Kerinduan yang berbalutkan sifat obsesif yang terhalang perbedaan kelas sosial serta intervensi takdir menjadi bahan bakar yang menggerakkan perjalanan "dewana" mereka menuju tragedi yang memilukan.

Kemudian partitur musik Piano Sonata No. 14 in C-sharp minor “Quasi una fantasia”, Op. 27, No.2 karya komposer Jerman Ludwig van Beethoven (17 Desember 1770 - 26 Maret 1827). Nama populer dari partitur tersebut Moonlight Sonata yang diberikan setelah lima tahun Beethoven wafat oleh kritikus musik Ludwig Rellstab.

Penamaan ini sesuai dengan gerakan pertama yang bertempo lambat, melankolis, penggunaan nada-nada akor piano nan lembut. Irama tenang inilah yang menyebabkan dia mengibaratkan sebagai pantulan sinar bulan di atas permukaan air Danau Lucerne di Swiss pada malam hari.

Moonlight Sonata yang dalam partitur musik klasik memiliki istilah struktural sebagai judul utama, yaitu “Quasi una fantasia” (Seperti sebuah fantasi). Beethoven menggubah karya ini berbeda dari pakem sonata tradisional lantaran strukturnya lebih mengalir, bebas, penuh improvisasi.

Dan, Beethoven mendedikasikannya untuk Countess Giucciardi. Murid piano yang menjerat "dewana" sang komposer. Namun, dia tidak bisa menikahi gadis itu karena perbedaan status sosial. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ada bagian dalam sonata ini menebarkan melodi kerinduan, kesedihan, dan keputusasaan nan mendalam.

Buka sumber asli