Dari "Healing" sampai "Gaslighting": Saat Bahasa Psikologi Jadi Tren
Istilah seperti healing, gaslighting, dan burnout kini jadi bagian dari obrolan sehari-hari. Apa yang membuat bahasa psikologi begitu populer?

"Aku lagi healing dulu."
"Dia toxic banget."
"Jangan gaslighting aku."
Istilah seperti healing, gaslighting, dan burnout kini menjadi bagian dari bahasa psikologi yang semakin populer di media sosial, khususnya di kalangan Generasi Z. Kalimat-kalimat seperti itu kini terasa begitu akrab. Kita mendengarnya di tongkrongan, ruang kelas, kantor, bahkan saat berselancar di media sosial. Istilah yang dulunya lebih sering muncul dalam buku psikologi atau ruang konseling kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, tetapi juga memperlihatkan bagaimana media sosial membentuk cara kita berkomunikasi.
Beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental semakin sering dibicarakan. TikTok, Instagram, X, dan Threads dipenuhi konten yang membahas hubungan yang sehat, cara mengelola emosi, hingga pengalaman menghadapi stres. Bersamaan dengan itu, istilah seperti healing, burnout, gaslighting, boundaries, red flag, dan people pleaser semakin populer di kalangan anak muda.
Perubahan ini tentu membawa angin segar. Dulu, membicarakan kesehatan mental sering kali dianggap tabu. Banyak orang enggan mengakui bahwa mereka sedang merasa cemas, kelelahan, atau membutuhkan bantuan karena takut dicap "berlebihan". Kini, media sosial membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk berbagi pengalaman, saling mendukung, dan belajar memahami pentingnya menjaga kesehatan mental. Kesadaran ini merupakan perkembangan yang patut diapresiasi.
Namun, di balik meningkatnya kesadaran tersebut, muncul fenomena lain yang menarik untuk dicermati. Istilah-istilah psikologi kini tidak lagi digunakan hanya untuk menjelaskan kondisi tertentu, melainkan juga menjadi bagian dari bahasa populer. Kata-kata tersebut digunakan untuk menggambarkan pengalaman sehari-hari, bahkan terkadang tanpa memahami makna yang sebenarnya.
Ambil contoh istilah healing. Dalam konteks psikologi, healing merupakan proses pemulihan yang dapat berlangsung dalam waktu lama dan melibatkan upaya memahami serta mengelola pengalaman emosional. Akan tetapi, di media sosial, istilah ini sering kali identik dengan pergi berlibur, menikmati secangkir kopi, atau mengunjungi tempat wisata. Tidak ada yang salah dengan beristirahat atau mencari suasana baru, tetapi ketika healing dipersempit hanya menjadi aktivitas rekreasi, makna yang lebih mendalam perlahan memudar.
Hal serupa terjadi pada istilah gaslighting. Kata ini awalnya merujuk pada bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan secara berulang hingga membuat seseorang meragukan ingatan, persepsi, atau penilaiannya sendiri. Kini, istilah tersebut sering digunakan untuk hampir semua bentuk kebohongan, bantahan, atau perbedaan pendapat. Akibatnya, batas antara konflik biasa dan manipulasi psikologis menjadi semakin kabur.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti perubahan budaya. Dari perspektif ilmu komunikasi, makna sebuah kata tidak hanya ditentukan oleh kamus atau definisi ilmiah, tetapi juga dibentuk melalui interaksi sosial. Ketika jutaan orang menggunakan istilah yang sama dalam berbagai konteks di media sosial, mereka secara tidak langsung menciptakan makna baru yang kemudian diterima oleh masyarakat luas.
Media sosial memainkan peran besar dalam proses tersebut. Algoritma mendorong konten yang menarik perhatian pengguna untuk muncul lebih sering di linimasa. Kreator konten yang membahas hubungan, kesehatan mental, atau pengembangan diri kerap menggunakan istilah-istilah psikologi karena terasa relevan dan mudah dipahami. Semakin sering istilah itu muncul, semakin akrab pula istilah tersebut di telinga masyarakat.
Di sisi lain, budaya media sosial juga mendorong penyampaian informasi secara singkat. Video berdurasi satu menit atau unggahan beberapa slide sering kali harus merangkum topik yang sebenarnya kompleks. Dalam proses penyederhanaan itulah, makna suatu istilah berpotensi bergeser. Tidak semua hubungan yang dipenuhi perbedaan pendapat adalah hubungan yang toxic. Tidak semua rasa lelah berarti burnout. Tidak semua kebohongan merupakan gaslighting. Namun, karena istilah-istilah tersebut terdengar familiar dan mudah dipahami, penggunaannya menjadi semakin luas.
Perubahan bahasa seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Bahasa selalu mengikuti perkembangan masyarakat. Dahulu, banyak istilah teknologi seperti "unggah", "swafoto", atau "viral" juga mengalami perubahan makna seiring berkembangnya internet. Bedanya, istilah psikologi berkaitan dengan pengalaman emosional manusia. Ketika maknanya berubah terlalu jauh, ada risiko munculnya kesalahpahaman dalam memahami kondisi diri sendiri maupun orang lain.
Misalnya, seseorang yang merasa lelah setelah menyelesaikan banyak tugas mungkin langsung menyimpulkan dirinya mengalami burnout. Padahal, kelelahan merupakan pengalaman yang wajar dan belum tentu menunjukkan kondisi tersebut. Sebaliknya, orang yang benar-benar mengalami gangguan psikologis bisa saja merasa kesulitannya dianggap biasa karena istilah yang sama sudah terlalu sering digunakan dalam konteks yang berbeda.
Di sinilah pentingnya literasi digital. Menjadi pengguna media sosial bukan hanya soal mampu membuat konten atau mengikuti tren, tetapi juga mampu menyaring informasi dan memahami konteksnya. Anak muda tidak perlu berhenti menggunakan istilah seperti healing atau gaslighting, tetapi akan lebih baik jika penggunaannya disertai pemahaman yang tepat. Dengan demikian, bahasa dapat tetap berkembang tanpa kehilangan makna yang penting.
Pada akhirnya, fenomena populernya bahasa psikologi menunjukkan bahwa komunikasi selalu bergerak mengikuti zaman. Media sosial telah mengubah bukan hanya cara kita memperoleh informasi, tetapi juga cara kita berbicara, memahami diri sendiri, dan menjelaskan pengalaman hidup kepada orang lain. Di satu sisi, perubahan ini membantu meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental. Di sisi lain, perubahan tersebut mengingatkan kita bahwa setiap kata membawa makna yang perlu digunakan secara bijaksana.
Mungkin tren istilah psikologi suatu saat akan berganti dengan tren bahasa yang lain. Namun, satu hal yang tampaknya akan tetap sama adalah peran komunikasi dalam membentuk cara kita memandang dunia. Karena itu, sebelum ikut menggunakan istilah yang sedang populer, ada baiknya kita bertanya sejenak: apakah kita benar-benar memahami maknanya, atau hanya sedang mengikuti bahasa yang sedang tren?