Dadan Hindayana dan Sejumlah Pernyataannya yang Jadi Sorotan
Dadan Hindayana dan Sejumlah Pernyataanya yang Jadi Sorotan #newsupdate #update #news #text

Bekas kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, ditetapkan jadi tersangka tata kelola Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Kejaksaan Agung, pada Rabu (3/6).
Dadan, baru satu tahun menjabat sebagai pimpinan tertinggi dari lembaga yang mengawal program prioritas pemerintah ini. Saat menjabat, Dadan kerap melontarkan sejumlah statement yang kerap disorot publik.
Berikut beberapa statementnya:
Saat Kepala BGN Bicara Tambahan Anggaran hingga Peluang Serangga Jadi Menu MBG
Pada awal 2025, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana berkomentar soal Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah dimulai di hampir semua kawasan di Indonesia. Ia menyinggung soal tambahan anggaran, pelibatan katering, hingga peluang serangga jadi menu di MBG.
“Pak Presiden menginginkan ada percepatan. Jadi Pak Presiden bertanya kepada Badan Gizi (Nasional), kalau dilakukan percepatan berapa dana yang dibutuhkan? Kami jawab Rp 100 triliun,” kata Dadan kepada wartawan, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu 25 Januari 2021.

Dadan mengungkapkan rencana untuk membangun 1.542 pusat MBG di Tahun 2025 dengan anggaran sebesar Rp 6 triliun. Namun, rencana tersebut baru akan direalisasikan pada bulan Agustus.
"Menunya enggak kami tetapkan secara nasional. Di satu daerah banyak telur, lainnya ayam atau ikan. Variasinya berbasis sumber daya lokal. Dan mungkin aja ada satu daerah suka makan serangga, belalang, ulat sagu, bisa jadi bagian dari protein," kata Dadan.
BGN: Makan Bergizi Gratis Sudah Jalan 3 Minggu, tapi Anggaran Baru Cair Rp 2 M
Di awal-awal pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Dadan menyebut akan mendapat anggaran sebesar Rp 71 triliun untuk program ini.
“Perlu Ibu (dan) Bapak ketahui program kami sudah berjalan, sekarang minggu ketiga dan uang pemerintah baru cair Rp 2 miliar,” kata Dadan Hidayana dalam rapat bersama Komite III DPD, di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa 21 Januari 2025.
Selain anggaran yang belum cair secara penuh, Dadan juga menyoroti infrastruktur BGN yang masih bekerja sama dengan mitra MBG.
"Badan Gizi (Nasional) belum memiliki infrastruktur yang dimiliki sendiri. Karena kami baru mendapat anggaran dan anggarannya baru dibuka blokirnya,” tutur Dadan.

Kepala BGN Buka Suara soal Anggaran Jasa EO Rp 113 Miliar
Dadan juga sempat bicara soal penganggaran jasa event organizer sebesar Rp 113 miliar. Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari kebutuhan strategis BGN sebagai lembaga baru yang tengah membangun sistem dan tata kelola operasional.
"Sebagai lembaga baru yang dibentuk untuk menjalankan program strategis nasional tentu berada dalam fase awal pembangunan sistem, struktur organisasi, serta tata kelola operasional. Dalam tahap ini, BGN belum memiliki sumber daya internal yang sepenuhnya siap untuk menangani seluruh kebutuhan kegiatan berskala besar secara mandiri," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu 12 April 2026.
Menurut Dadan, dalam penyelenggaraan event, kampanye publik, dan sosialisasi nasional yang berskala besar dan kompleks, diperlukan dukungan pihak profesional. EO dinilai punya keahlian yang belum sepenuhnya dimiliki BGN saat ini.
"Penggunaan jasa EO dalam konteks ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kegiatan dapat berjalan secara profesional, terstandar, dan tepat waktu. EO memiliki keahlian khusus dalam manajemen acara, mulai dari perencanaan, koordinasi vendor, pengelolaan teknis lapangan, hingga mitigasi risiko operasional," ujarnya.

Kepala BGN Soroti Kasus Stunting: Banyak Anak Tak Mampu Beli Susu
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyoroti kasus stunting yang masih tinggi di Indonesia. Menurutnya, stunting perlu diatasi sejak 1.000 hari pertama anak lahir ke dunia serta pada masa pertumbuhannya.
“Yang paling menyedihkan juga ternyata 60% anak-anak kita itu tidak pernah minum susu. Jadi bukan laktosa intoleransi atau ketika minum susu mencret seperti yang disampaikan oleh para ahli bahwa Asia tidak cocok untuk minum susu. Tapi dalam kenyataan mereka tidak mampu beli susu,” tutur Dadan dalam sambutannya di Acara “Pira Berdaya Gerindra Berjaya”, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu (25/1).
Dadan mengatakan, tidak terpenuhinya gizi seimbang tersebut mengakibatkan tumbuh kembang sang anak terhambat. Selain itu, IQ anak-anak juga berada dalam rentang rata-rata.
“Jadi Ibu (dan) Bapak harus maklumi kenapa rata-rata 78 karena 60% populasinya diukur dari keluarga miskin itu. Nah, kemudian kenapa program ini menyasar 82,9 juta (penerima manfaat),” ujar Dadan Hindayana dalam sambutannya di Acara “Pira Berdaya Gerindra Berjaya”, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu (25/1).
Kepala BGN soal 40 Siswa Keracunan MBG: Tak Ada Kesalahan SOP, Murni Human Error
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan penyebab 40 siswa SD 03 Sukoharjo, Jawa Tengah, mengalami keracunan usai menyantap makan bergizi gratis (MBG) karena adanya kesalahan teknis.
"Sudah pokoknya teknis sudah diselesaikan. Human eror human eror," ujar Dadan usai menemui Presiden Prabowo Subianto, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat 17 Januari 2025.
Dadan mengeklaim, tidak ada standar operasional prosedur (SOP) yang dilanggar dalam penyajian makan bergizi di Sukoharjo.
"Enggak ada, enggak ada pelanggaran [SOP] hanya kesalahan teknis," tegas Dadan Hindayana usai menemui Presiden Prabowo Subianto, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Kepala BGN: 60% Anak di Daerah Uji Coba MBG Tak Pernah Lihat Menu Gizi Seimbang
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan perkembangan perihal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia menyebut, 60 persen anak di wilayah percobaan ternyata tak menerima gizi seimbang dan minum susu.
"Bapak Presiden selalu mengatakan makan bergizi ini adalah langkah strategis, kenapa? Karena 60% anak di wilayah percobaan, yang kami kan 98 uji coba selama 12 bulan, itu 60% tidak pernah melihat menu dengan gizi seimbang," kata Dadan di Acara Pira Berdaya Gerindra Berjaya Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu 25 Januari 2025.
Dadan menambahkan, kebanyakan anak-anak di wilayah uji coba hanya makan karbohidrat seperti nasi serta mi.
"Paling menyedihkan juga ternyata 60% anak-anak kita itu tidak pernah minum susu. Jadi bukan laktosa intoleran atau ketika minum susu mencret seperti yang disampaikan oleh para ahli bahwa Asia tidak cocok untuk minum susu, tapi dalam kenyataan mereka tidak mampu beli susu," jelas Dadan.
Kepala BGN: MBG Hak Setiap Anak RI, Kalau Ada Penolakan Ngapain Kita Paksa?
Dadan juga sempat merespons maraknya demo penolakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan siswa di Papua. Dadan menegaskan, BGN tidak akan memaksa siswa Papua makan MBG jika tidak mau.
"Sementara kalau yang tidak ingin ya kita tidak penuhi dulu, karena itu hak mereka. Kalau yang berhak menolak, kan, ngapain kita paksakan, tapi kami akan persuasif karena pentingnya untuk generasi mendatang," kata Dadan, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat, 28 Februari 2026.
Dadan menjelaskan, program unggulan Prabowo ini merupakan upaya untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas untuk masa depan generasi Indonesia.
"Dan ini adalah hak setiap anak di Indonesia untuk mendapatkan makanan yang berkualitas," kata Dadan.