Cuan Filet Ikan Sapu-Sapu: Dijual di Medsos, Omset Jutaan Rupiah
Cuan Filet Ikan-Sapu-Sapu: Dijual di Medsos, Omset Jutaan Rupiah. #newsupdate #update #news #text

Jari-jemari Adit (42) bergerak cekatan, seolah sudah hafal setiap lekuk tubuh ikan sapu-sapu yang tergeletak di hadapannya. Dari balik lapisan keras seperti zirah, ia menguliti daging ikan itu dengan sabar, memisahkan kepala, tulang, dan ekor yang tak lagi terpakai.
Adit merupakan salah satu nelayan di Kabupaten Bogor yang menjadikan ikan sapu-sapu sebagai mata pencaharian. Ikan-ikan itu biasa dia ambil dari sejumlah sungai atau kali yang berada di sekitaran Jakarta. Mulai dari Kali Pesanggrahan di Pondok Labu dan Fatmawati hingga Kali Ciputat-Bintaro.
Daging sapu-sapu yang sudah dikuliti kemudian dikemasnya ke dalam bungkusan-bungkusan plastik. Satu kilogram daging biasanya dijual ke tengkulak seharga Rp 15 ribu per kilogram, sementara telurnya dijual sekitar Rp 18 ribu. Dari tengkulak, daging maupun telur itu kemudian dipasarkan di media sosial dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram.

“Kalau kerjaan saya ya begini [jual ikan sapu-sapu]. Kalau ada families [dangdutan] saya jualan uli bakar,” kata Adit saat berbincang dengan kumparan, Kamis (23/4).
Layaknya ayam potong, ikan sapu-sapu fillet yang sudah dikemas ke dalam bungkusan plastik berukuran satu kilogram itu disimpan ke dalam freezer besar. Bila ada pelanggan yang datang atau memesan, daging fillet itu sudah siap dijual baik dalam partai kecil maupun besar.

Untuk Mancing hingga Pakan Hewan
Serupa dengan Adit, Zaenudin (39) juga merupakan salah satu nelayan ikan sapu-sapu di kampung tersebut. Menurut Zaenudin, daging fillet itu biasanya dijual untuk kebutuhan pakan ternak hingga umpan untuk memancing.
"Kita minimal bawa 10 kg daging yang sudah difillet tuh. Ya, kalau untuk karungan mungkin satu karung. Satu karung itu jadi 10 kg daging. 10 kg daging itu minimal jadi uang ya Rp 150 ribu-an itu per hari," kata Zainuddin.

Berdasarkan hitung-hitungan kumparan, Zaenuddin bisa mengantongi Rp 4,5 juta dalam sebulan. Zaenuddin sendiri sudah berprofesi sebagai nelayan ikan sapu-sapu sejak 2019 silam. Tepatnya ketika dia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) pada masa pandemi COVID-19.
Selama enam tahun terakhir, ia menggantungkan penghasilan dengan mencari ikan sapu-sapu di wilayah Tangerang Selatan dan sekitar. Meski banyak yang bilang air sungai tercemar, Zaenudin yakin tidak semua ikan sapu-sapu terkontaminasi logam.
"Ada juga sapu-sapu yang hidupnya di tempat-tempat bersih. Kebanyakan kan kalau kayak gitu bisa dikonsumsi apa bisa dibuat makanan ternak seperti umpan-umpan ikan-ikan yang makan daging-daging itu kan si aligator seumpama gitu kan," ungkap dia.

Selain itu, dia juga menyebut filet sapu-sapu biasanya digunakan untuk umpan mancing. Ada pula hewan ternak yang bisa memanfaatkan filet sapu-sapu sebagai pakan.
"Umpan-umpan mancing aja kadang-kadang sama buat makan-makan ternak. Kadang kan semuanya [mancing dan pakan ternak] ada yang pakai daging ya. Daripada dia beli ikan mahal mending dia pakai [ikan sapu-sapu]. Bedanya lebih ekonomis ibaratnya," ungkapnya
Apakah Jadi Olahan Siomay?
Kami lalu menanyakan apakah filet sapu-sapu yang Zaenudin menjadi bahan olahan siomay atau tidak. Isu tersebut memang tengah santer di media sosial.
Lalu, apa kata Zaenudin?
"Justru siomay itu jarang pakai [ikan sapu-sapu] malah. Karena harganya enggak ngejual buat tukang somai. Tapi kalau bakso ya mungkin juga itu cuma beberapa. Cuma oknum-oknum tertentu aja. Enggak semuanya yang pakai itu," ungkapnya.

Zaenudin justru kembali menekankan bahwa filet yang dia jual untuk pakan ternak. Bukan untuk makanan olahan manusia.
"Lebih sering buat pakan ternak. Kayak nanti kan kulitnya itu kan bisa dibuat apa namanya pupuk ya kan. Setelah dikubur bisa di tanahnya juga bisa gembur ya kan," pungkasnya.