Chindo sebagai Hybrid Identity pada Generasi Z Tionghoa Indonesia
Fenomena identitas Tionghoa di Indonesia mengalami banyak pergeseran. Mereka memiliki identitas yaitu Indonesia, tetapi juga dianggap sebagai keturunan China atau Tionghoa.

Fenomena identitas Tionghoa di Indonesia mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir. Pada masa Orde Baru, identitas Tionghoa sering disembunyikan melalui asimilasi dan passing identity; identitas asli dileburkan atau disembunyikan. (Etnis Tionghoa generasi X dan Y cenderung menyembunyikan identitas dan berusaha menampilkan diri seperti kelompok dominan.) Erving Goffman menjelaskan strategi ini sebagai usaha mengurangi stigma sosial dan manajemen identitas. Maka, Generasi Z Tionghoa Indonesia menunjukkan pola yang berbeda. Banyak anak muda Tionghoa saat ini justru secara terbuka menyebut dirinya “Chindo”, sebuah istilah populer yang merujuk pada “China Indonesia”. Istilah menjadi label sosial, dan merupakan bentuk identitas baru yang lebih cair, fleksibel, dan hybrid.
Fenomena “Chindo” menjadi menarik karena menunjukkan bagaimana generasi muda Tionghoa memahami dirinya. Mereka tidak lagi melihat identitas sebagai “Indonesia” atau “Tionghoa”, tetapi sebagai penggabungan keduanya. Dalam konteks ini, “Chindo” dapat dipahami sebagai bentuk hybrid identity, yaitu identitas campuran hasil negosiasi sejarah, budaya, dan globalisasi. Konsep hybrid identity dijelaskan oleh Homi K. Bhabha dalam konteks kolonialisasi atau penjajahan, di mana interaksi antara penjajah dan yang dijajah membentuk “third space” atau ruang ketiga. Dalam ruang ini, individu tidak sepenuhnya berada pada satu identitas tertentu, tetapi membentuk identitas baru melalui proses negosiasi budaya. Dalam konteks Indonesia, etnis Tionghoa menjadi etnis minoritas yang sering kali mendapat prasangka. Istilah “Chindo” merepresentasikan ruang tersebut: tidak sepenuhnya “China”, tetapi juga bukan “pribumi”, melainkan identitas baru yang khas Indonesia.
Pada Generasi Z, identitas “Chindo” berkembang dalam konteks sosial yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Generasi ini lahir pascareformasi, sehingga tidak mengalami langsung berbagai kebijakan diskriminatif seperti larangan penggunaan bahasa Cina, pembatasan praktik budaya dan kerusuhan berbau rasial 1998. Hal ini membuat Generasi Z tumbuh dalam situasi sosial yang lebih terbuka dan multikultural. Walaupun demikian, memori kolektif tentang diskriminasi masih memengaruhi pembentukan identitas mereka. Trauma sejarah seperti Kerusuhan Mei 1998 tetap menjadi bagian penting dalam sejarah Tionghoa Indonesia. Banyak keluarga masih mewariskan nilai kehati-hatian dalam menampilkan identitas etnis di ruang publik. Hal ini menyebabkan identitas “Chindo” pada Generasi Z lebih fleksibel, di mana mereka dapat terbuka pada satu situasi, tetapi lebih berhati-hati dalam situasi lain.
Di media sosial atau ruang digital, Chindo generasi Z cenderung dapat menampilkan dan menegosiasikan identitas mereka. Mereka juga melakukan selective disclosure dan terbuka dalam penggunaan nama Cina, konten mengenai Imlek, humor mengenai etnis mereka, bahkan mengekspresikan kebanggaan terhadap etnis mereka. Banyak content creator Chindo yang mendapatkan banyak follower dan mendapat apresiasi dari masyarakat. Di media sosial, mereka dapat mengekspresikan identitas etnis mereka. Hal ini berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung menyembunyikan berbagai hal yang berbau Tionghoa. Dalam hal ini, identitas online lebih bebas dibandingkan dengan identitas offline. Penulis melakukan wawancara dengan Chindo gen Z yang merasa bahwa secara offline, ia kerap mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan, bahkan di tempat magangnya. “Oh ada Cina”, atau “Kamu Cina?” pertanyaan yang juga dijumpai yang bersangkutan. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun kelihatan “lebur”, stereotip dan prasangka terhadap etnis Tionghoa belum sepenuhnya hilang. Bagi yang mengalaminya, mereka juga akan hati-hati dalam bersosialisasi. Identitas Chindo menjadi bentuk kompromi dan merupakan transformasi identitas pascareformasi; dari identitas yang “berusaha ditutupi” menjadi identitas yang lebih cair dan integratif. Perkembangan zaman dan globalisasi juga mendorong terbentuknya identitas hybrid ini. Korean drama, China drama, dan K-pop wave juga membentuk “toleransi” terhadap etnis ini.
Dalam perspektif psikologi sosial, fenomena Chindo sangat penting karena menunjukkan bagaimana minoritas etnis mengelola identitasnya dalam masyarakat saat ini. Sebagian individu merasa bahwa istilah ini cenderung mempersatukan etnis Tionghoa dengan Indonesia-nya; di sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa istilah Chindo juga masih membuat tidak aman dan masih “membedakan”. Ambivalensi ini menunjukkan bahwa identitas Chindo masih terus dinegosiasikan.