News Berita

Cerita Warga Lereng Merapi Budidaya Anggrek hingga Kopi untuk Jaga Air

Berjalan sejak 2016, begini cara warga lereng Merapi menjaga konservasi air hingga erosi. #kumparanTRAVEL #newsupdate

Cerita Warga Lereng Merapi Budidaya Anggrek hingga Kopi untuk Jaga Air
Bukit Emmon (Emperan Merapi Montong) yang jadi sumber tangkapan air AQUA di Myrian, Boyolali, Jawa Tengah. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Bukit Emmon (Emperan Merapi Montong) yang jadi sumber tangkapan air AQUA di Myrian, Boyolali, Jawa Tengah. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

PT Tirta Investama (AQUA) terus mendorong upaya konservasi di lereng Gunung Merapi yang melibatkan masyarakat melalui budidaya anggrek, kopi, hingga pembuatan bedengan (badukan) sebagai resapan air. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi warga dan kelestarian lingkungan.

Dalam kegiatan edukasi konservasi di kawasan lereng Merapi, Stakeholder Relations Manager AQUA, Rama Zakaria menjelaskan bahwa selama ini masyarakat lebih banyak menanam tanaman hortikultura seperti kubis, wortel, dan tembakau yang masa panennya relatif singkat.

“Begitu dipanen tanahnya kosong. Ketika hujan turun, rawan terjadi erosi atau longsor kecil karena tidak ada yang menutup tanah,” ujarnya saat ditemui kumparan di Boyolali belum lama ini.

Selain memicu erosi saat musim hujan, lahan yang terbuka juga membuat kondisi tanah menjadi lebih panas ketika musim kemarau sehingga mikroorganisme tanah terganggu.

Bendera Merah Putih raksasa 9x6 meter berkibar di lereng Merapi, di Bukit Klangon, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Jumat (16/8/2024). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Bendera Merah Putih raksasa 9x6 meter berkibar di lereng Merapi, di Bukit Klangon, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Jumat (16/8/2024). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Karena itu, masyarakat mulai diajak menanam tanaman tahunan seperti kopi, alpukat, hingga berbagai jenis pohon lain agar tanah tetap tertutup dan kemampuan resapan air meningkat.

“Komprominya adalah bagaimana kepentingan ekonomi masyarakat tetap berjalan, tetapi konservasi air dan ekologi juga terjaga,” katanya.

Warga setempat, Painu, mengatakan sebelumnya mayoritas petani hanya mengandalkan penghasilan dari mawar dan tembakau. Namun setelah program konservasi berjalan, masyarakat mulai mendapatkan tambahan pendapatan dari tanaman kopi dan alpukat.

“Sekarang juga dapat penghasilan tambahan dari tanaman kopi,” ujarnya.

Selain penanaman pohon, warga juga menerapkan teknik konservasi tanah dan air seperti pembuatan teras lahan, rumput strip penahan erosi, sumur resapan, hingga lubang biopori atau rorak di area kebun.

Budidaya kopi di Desa Gumuk, Boyolali  Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Budidaya kopi di Desa Gumuk, Boyolali Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Menurutnya, sistem tersebut membantu air hujan tidak langsung mengalir ke sungai, tetapi lebih banyak meresap ke dalam tanah.

Di kawasan tersebut, setiap rumah juga dilengkapi penampungan air hujan berkapasitas besar yang dihubungkan dengan sumur resapan.

“Kalau dulu masyarakat mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari dan perawatan ternak. Sekarang luapan air dari penampungan juga diarahkan ke sumber resapan,” jelasnya.

Budidaya anggrek di Desa Gumuk, Boyolali  Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Budidaya anggrek di Desa Gumuk, Boyolali Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Program konservasi itu disebut mulai berjalan sejak 2016. Pada awalnya, masyarakat sempat khawatir konservasi akan mengubah lahan mereka menjadi hutan sehingga aktivitas pertanian tidak bisa dilakukan lagi.

Namun setelah melalui pendekatan dan sosialisasi selama sekitar dua tahun, warga mulai memahami bahwa konservasi dilakukan tanpa menghilangkan sumber penghasilan masyarakat.

“Tidak mengganti tanaman yang sudah ada, tetapi menambah tanaman produktif supaya ada nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.

Konservasi di Lereng Merapi

Penyuluh Kehutanan Taman Nasional Gunung Merapi, Reka Permana (kanan), Stakeholder Relations Manager AQUA, Rama Zakaria (tengah) dalam acara media trip kampanye Adem AQUA di Desa Gumuk, Boyolali, Jawa Tengah pada Selasa (5/6/2026). Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Penyuluh Kehutanan Taman Nasional Gunung Merapi, Reka Permana (kanan), Stakeholder Relations Manager AQUA, Rama Zakaria (tengah) dalam acara media trip kampanye Adem AQUA di Desa Gumuk, Boyolali, Jawa Tengah pada Selasa (5/6/2026). Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Selain menjaga kawasan resapan air, konservasi di lereng Merapi juga dilakukan untuk melindungi keanekaragaman hayati di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

Penyuluh Kehutanan Taman Nasional Gunung Merapi, Reka Permana, menjelaskan kawasan tersebut dikelola dengan sistem zonasi, mulai dari zona pemanfaatan wisata, zona tradisional, hingga zona inti yang berada di sekitar puncak Merapi.

“Taman nasional ini salah satu fungsi paling pentingnya adalah perlindungan sistem tata air,” ujarnya.

Air hujan yang terserap di lereng Merapi disebut akan mengalir melalui sistem batuan bawah tanah hingga ke wilayah yang lebih rendah seperti Klaten.

Karena itu, kawasan lereng Merapi dinilai memiliki peran penting dalam menjaga pasokan air bagi masyarakat maupun industri di wilayah bawah.

Penyuluh Kehutanan Taman Nasional Gunung Merapi, Reka Permana, saat memberikan pemaparan di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) di Boyolali, Jawa Tengah pada Selasa (5/5/2026). Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Penyuluh Kehutanan Taman Nasional Gunung Merapi, Reka Permana, saat memberikan pemaparan di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) di Boyolali, Jawa Tengah pada Selasa (5/5/2026). Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga dikenalkan pada berbagai flora dan fauna yang hidup di kawasan Merapi, mulai dari tanaman akar wangi, anggrek, hingga satwa seperti lutung jawa dan monyet ekor panjang.

Reka menjelaskan lutung jawa merupakan satwa dilindungi dengan populasi terbatas dan hidup liar di kawasan taman nasional.

Rangkaian kegiatan konservasi kemudian ditutup dengan agenda adopsi anggrek sebagai bagian dari upaya pelestarian alam di kawasan lereng Gunung Merapi.

Buka sumber asli