Cerita Nila Ajarkan Penyandang Disabilitas Percaya Diri Lewat Seni Teater
Cerita Nila Ajarkan Penyandang Disabilitas Percaya Diri Lewat Seni Teater #newsupdate #update #news #text

Wajah dan mimik Nila Dianti (32) berubah, dari marah, kemudian tersenyum, lalu tertawa dan menangis.
Ekspresinya itu kemudian diikuti pelan-pelan oleh puluhan muridnya yang merupakan penyandang disabilitas. Tangan-tangan kecil itu kemudian meraup wajahnya, meraba mata, hidung, dan bibirnya.
Nila bukan orang sembarangan. Ia merupakan pegiat seni teater kawakan di Semarang. Bagi Nila, teater bukan hanya sekadar seni, namun jalan hidup.
Setelah lulus kuliah, Nila awalnya hanya meneruskan aktivitasnya di komunitas teater umum. Namun, ia gelisah karena melihat teater kerap dianggap sebagai seni yang eksklusif, baik bagi pelaku maupun penikmatnya.
Nila lalu merambah menjadi pengajar akting dan ekspresi bagi beragam kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Mimik wajah beragam emosi yang ia tunjukkan itu merupakan bagian penting dari cara ia mengajar.

Guru di Rumah Difabel
Setiap minggu, di sela kegiatannya yang padat, Nila mengabdikan dirinya menjadi guru ekspresi di rumah difabel. Di tempat itu, ia mengajari puluhan penyandang disabilitas bagaimana berekspresi seperti manusia yang lain.
"Ya memang awalnya saya ini lagi cari peer baru, cari tantangan baru. Terus aku lihat teman-teman disabilitas ini kesulitan berekspresi dan memahami ekspresi. Lalu aku gabung lah di rumah difabel ini, sudah setahun ini, sekarang sudah punya kelas sendiri. Kelas ekspresi," ujar Nila kepada kumparan, Senin (20/7).
Bagi Nila, mengajar penyandang disabilitas jelas berbeda dibandingkan mengajar model, konten kreator, atau masyarakat umum yang menjadi kliennya sehari-hari. Butuh kesabaran dan hati seluas samudra.
Namun, bagi gadis yang meraih gelar Sarjana Sastra Indonesia UNDIP dan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia dari UNNES itu, hal tersebut tak jadi soal. Bahkan, untuk penyandang disabilitas, Nila tak memungut biaya sepeser pun.
"Iya memang ada kesulitan tersendiri. Karena murid-muridku ini ada yang tuna grahita, ada yang tuna wicara, tuna rungu, hingga autisme. Jadi macam-macam," jelas dia.

Metode mengajarnya pun unik. Selain berperan sebagai guru, Nila juga harus bisa menyediakan ruang aman dan nyaman bagi peserta untuk mengekspresikan diri. Pelan-pelan, Nila mengajak anak didiknya bercerita.
"Jadi pertamanya aku bikin seperti story telling. Jadi aku minta mereka cerita pagi ini makan apa? Biar dia cerita dengan detail. Terus latihan bikin berekspresi. Kalau senyum gimana? Marah gimana? Sedih gimana? Jadi ya sampai megang-megang wajah gitu," jelas dia.
Selama ini, Nila melihat ada banyak kerapuhan dalam diri anak-anak penyandang disabilitas. Mereka sering kali diminta menahan perasaan, menahan emosi, yang tentu saja berdampak pada kondisi mental.
"Jadi yang pertama itu biar mereka belajar cara meregulasi emosi, karena kebanyakan tahunya tuh cuma ekspresi netral, lalu senang. Kalau sedih, marah tuh jarang disimpan di ingatan mereka gitu," ungkap Nila.

Nila juga ingin menunjukkan para penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk berekspresi. Mereka boleh marah, boleh sedih, boleh merasa senang. Dan perasaan itu boleh ditunjukkan kepada dunia.
"Terus mereka juga punya hak untuk belajar berekspresi gitu loh. Karena mereka itu kebanyakan disuruh tenang terus kalau di luar," imbuh dia.
Nila punya salah satu momen yang tidak pernah hilang dalam ingatannya. Saat itu, ia melihat dua anak didiknya yang sama-sama penyandang disabilitas saling menyemangati.
"Jadi ada anak yang waktu itu merasa sedih. Terus temannya nangkap, bilang enggak apa-apa merasa sedih. Tapi kamu harus semangat gitu. Jadi mereka ada interaksi," imbuhnya.
Pelan-pelan, kepercayaan diri murid-muridnya tumbuh. Mereka mulai senang bercerita, senang menanggapi, dan memiliki interaksi dengan orang lain.
"Ada yang awalnya dia itu enggak terlalu banyak ngomong, enggak terlalu bisa bercerita, sekarang aku lihat bisa ngomong, terus bisa lebih mengikuti instruksi. Ada yang sudah tahu misalnya oh mbak itu lagi sedih ya, lagi marah ya. Dan mereka intinya lebih percaya diri," ungkap dia.
Nila pun berharap masyarakat di luar sana juga memberikan kesempatan yang sama agar para penyandang disabilitas bisa berekspresi atau meregulasi emosinya dengan baik.
"Aku bersyukur bisa membuat mereka belajar karena mereka memang punya hak untuk belajar gitu. Dan aku harap masyarakat di luar sana juga memberikan hal yang sama," kata Nila.