News Berita

Cash Stuffing Tetap Eksis dan Naik Kelas Berkat Bank Digital

Di era modern, metode membagi uang tunai ke dalam pos-pos anggaran tetap eksis berkat bank digital. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Cash Stuffing Tetap Eksis dan Naik Kelas Berkat Bank Digital
Ilustrasi uang di dalam amplop. Foto: Kaharuddin Hatta/Shutterstock
Ilustrasi uang di dalam amplop. Foto: Kaharuddin Hatta/Shutterstock

Di era modern, metode membagi uang tunai ke dalam pos-pos anggaran atau cash stuffing tetap eksis dengan bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi finansial. Banyak masyarakat yang dulu menyimpan uang di amplop-amplop dengan label berbeda sesuai tujuan seperti untuk uang sekolah, listrik, belanja, kini beralih ke metode ‘pos-posan’ melalui fitur pada aplikasi perbankan.

Sebut saja fitur Kantong yang dipelopori oleh Bank Jago. Melalui Aplikasi Jago, pengguna dapat membuat hingga 60 Kantong, yang dapat dipersonalisasi sesuai kebutuhan, seperti ‘Kantong Bayar’ yang terhubung dengan kartu debit Visa untuk transaksi harian, hingga ‘Kantong Nabung’ yang dilengkapi dengan target, progres tabungan, dan fitur auto-budgeting.

Selain fitur Kantong dari Bank Jago, ada juga fitur Saku yang dikeluarkan Bank Saqu. Sebuah produk intuitif dan serbaguna yang bertujuan untuk membantu nasabah mengatur berbagai keperluan, mulai dari mengelola pendapatan, mengatur pengeluaran dan berbagai tujuan keuangan.

Fitur dengan nama Saku juga dikeluarkan oleh Bank Raya. Fungsinya, agar nasabah bisa memisahkan tabungan keuangan sesuai kebutuhan. Mulai dari budget bulanan, persiapan dana darurat, tabungan untuk keinginan, hingga tabungan bersama. Setiap Saku utama dalam Bank Raya juga bisa dibagi lagi ke dalam pos-pos yang lebih kecil. Misalnya, Saku Pintar yang bisa dibagi ke pos pembelian mobil baru, pos jalan-jalan ke Swiss, atau lainnya.

Walaupun berubah dari fisik ke digital, esensi budayanya tetap sama, yakni batasan yang tegas dalam berbelanja. Dengan membagi pendapatan ke dalam pos-pos yang spesifik, orang merasa lebih tenang karena memiliki kontrol penuh atas arus kas mereka di tengah gempuran tren konsumerisme.

Head of Retail Banking Brand & Marketing Bank Jago, Michael Hartawan, menjelaskan fitur Kantong di Bank Jago merupakan fitur pengelolaan keuangan di Aplikasi Jago yang memungkinkan nasabah memisahkan uang berdasarkan kebutuhan dan tujuan finansial dalam satu aplikasi.

Sebagai pelopor fitur Kantong, Bank Jago percaya setiap uang memiliki tempat dan tujuan sehingga nasabah dapat membuat Kantong untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengeluaran harian, tabungan traveling, dana darurat, investasi, hingga kebutuhan bersama dengan keluarga atau pasangan.

“Bank Jago mencoba menghadirkan ‘Seni Menempatkan Uang’ dalam bentuk digital agar lebih praktis dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” kata Michael kepada kumparan, Selasa (26/5).

Ilustrasi Kantong Bank Jago. Foto: Bank Jago
Ilustrasi Kantong Bank Jago. Foto: Bank Jago

Michael menilai, tantangan utama banyak orang kini bukan hanya menyimpan uang, melainkan mengelolanya secara disiplin dan terarah.

“Jika sebelumnya masyarakat perlu membuka beberapa rekening bank untuk memisahkan kebutuhan, sekarang semua bisa dilakukan lewat fitur Kantong dalam satu aplikasi,” ucap Michael.

Selain itu fitur Kantong juga dapat dihubungkan dengan kartu debit dan QRIS, hingga digunakan bersama melalui fitur Kantong Bersama atau Shared Pocket.

“Dengan begitu, nasabah tetap bisa memantau keseluruhan kondisi keuangannya dalam satu aplikasi meski dananya dipisah ke banyak kantong,” ucapnya.

Seiring meningkatnya penggunaan fitur tersebut, Bank Jago mencatat terdapat sekitar 43,2 juta Kantong yang telah digunakan oleh 15,2 juta pengguna Aplikasi Jago hingga Maret 2026. Michael mengatakan setiap pengguna rata-rata memiliki tiga Kantong khusus untuk kebutuhan finansial yang berbeda-beda.

“Kantong Pengeluaran menjadi salah satu yang paling banyak digunakan, terutama untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, transportasi, hingga tagihan rutin. Selain itu, banyak pengguna juga memanfaatkan Kantong untuk kebutuhan bisnis, investasi, hingga dana musiman seperti THR, Lebaran, dan kurban,” jelas Michael.

Ia juga mengungkapkan pengguna fitur Kantong didominasi oleh generasi produktif, khususnya Gen Z dan milenial. Katanya, kelompok tersebut cenderung lebih aktif menggunakan layanan digital dan memiliki kebutuhan untuk mengatur keuangan secara lebih fleksibel, personal, serta terintegrasi dengan gaya hidup sehari-hari.

“Kami juga melihat bahwa generasi muda saat ini semakin aktif mengelola keuangan dan investasi. Mereka tidak hanya ingin menabung, tetapi juga ingin memiliki kontrol yang lebih baik atas pengeluaran, tujuan finansial, hingga perkembangan aset investasi mereka dalam satu ekosistem digital yang seamless,” sebutnya.

Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Moch Amin Nurdin, menyatakan model pengelolaan uang dengan metode cash stuffing pada dasarnya merupakan pendekatan yang sederhana dalam pengendalian arus kas pribadi.

Amin menuturkan, secara prinsip metode tersebut masih efektif karena membantu seseorang memisahkan kebutuhan berdasarkan prioritas dan membatasi pengeluaran secara psikologis. Sehingga dari awal yang berubah bukan prinsipnya, melainkan media nya yaitu dari amplop fisik menjadi fitur digital.

“Di tengah perkembangan ekonomi digital saat ini, konsep tersebut masih sangat relevan, terutama bagi masyarakat yang sedang membangun disiplin finansial,” kata Amin kepada kumparan.

Menurutnya, kehadiran berbagai layanan perbankan yang mengadopsi konsep pos-posan menunjukkan industri perbankan mulai bergerak lebih dekat dengan kebutuhan perilaku keuangan masyarakat melalui pendekatan yang lebih personal.

“Bank tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dana, tetapi juga menjadi financial lifestyle partner,” sebut Amin.

Ia pun menjelaskan konsep seperti kantong, saku, atau budgeting digital pada dasarnya merupakan adaptasi modern dari praktik pengelolaan keuangan konvensional yang sejak lama dikenal masyarakat. Kata Amin, hal tersebut menjadi bentuk inovasi positif karena mempermudah pengguna dalam melakukan perencanaan serta pengendalian keuangan secara lebih praktis dan terukur.

“Transformasi budaya menabung dari metode fisik ke digital berpotensi meningkatkan literasi dan disiplin finansial masyarakat Indonesia, terutama karena sistem digital memberikan kemudahan monitoring, pencatatan, dan pengingat otomatis,” jelasnya.

Ia mengatakan dalam banyak kasus masyarakat menjadi lebih sadar terhadap pola pengeluaran karena seluruh transaksi tercatat secara real time. Selain itu, akses digital juga dinilai membuat edukasi keuangan menjadi lebih inklusif dan mudah dijangkau generasi muda.

IIustrasi bank digital. Foto: Garun .Prdt/Shutterstock
IIustrasi bank digital. Foto: Garun .Prdt/Shutterstock

Meski demikian, Amin menekankan efektivitas fitur digital tersebut tetap bergantung pada tingkat literasi keuangan pengguna karena teknologi hanya berfungsi sebagai alat, sedangkan disiplin tetap dibentuk oleh perilaku dan kebiasaan.

Menurutnya, fitur seperti Kantong di Bank Jago maupun Saku di Bank Saqu dan Bank Raya memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap perilaku masyarakat dalam mengatur keuangan pribadi, khususnya bagi generasi muda dan pengguna aktif layanan digital banking.

“Fitur tersebut membantu proses visualisasi tujuan keuangan sehingga menabung terasa lebih terarah dan terukur,” ucap Amin.

Sementara dalam aspek psikologis, pemisahan dana berdasarkan tujuan juga dinilai dapat mengurangi perilaku konsumtif impulsif karena pengguna memiliki batas yang jelas untuk setiap kebutuhan.

“Dalam jangka panjang, fitur-fitur seperti ini dapat membantu membangun budaya pengelolaan keuangan yang lebih disiplin, transparan, dan berbasis perencanaan,” tutur Amin.

Buka sumber asli