(Bukan) Surat-Surat Cinta Dari Kirana (6)
Sambil menyeberangi sepi kupanggil namamu, wanitaku. Apakah kau tak mendengarku? #userstory

Keputusanmu menyingkir ke Malang bukan tanpa alasan, kau ingin mengambil jarak atas fase kehidupan yang selama ini sebagian besar kau habiskan di Bandung, tentu juga kadang-kadang di Subang, kotamu.
Jarak antara Bandung dengan Malang cukup jauh namun nuansanya masih tetap sama. Kedua kota itu selalu diglorifikasi sebagai kota kenangan. Perantau yang datang akan jatuh hati berkali-kali dan mustahil lepas dari pelukannya.
Sesampai di Malang, aku ingin mengirimimu beberapa potongan puisi, tentu dari para pujangga favoritmu. Ada dua yang tak mungkin luput, WS Rendra dan Sapardi Djoko Damono, kadang-kadang kau juga terhanyut dalam diksi-diksi Widji Tukul.
Aku sedang menikmati kumpulan puisi WS Rendra Blues, untuk Bonnie. Segera kuketik potongan puisi dan kukirimkan via pesan whatsapp;
Sambil menyeberangi sepi
kupanggil namamu, wanitaku.
Apakah kau tak mendengarku?
Di Malang, kau memilih kawasan kampus UMM sebagai tempat tinggal. Kau tidak pernah ingin jauh dari suasana kampus karena menurutmu, lingkungan kampus selalu punya cara tersendiri merawat idealisme kaum muda.
Kau semakin progresif dengan pemikiran yang melampaui apa yang aku bayangkan sebelumnya. Kau mengirimkan link tulisanmu tentang hasil diskursus yang kau tekuni kemudian memintaku untuk merespons.
Ada yang kusepakati namun sebagian benar-benar membuatku terpengarah, kau telah menjadi Kirana yang benar-benar berbeda dari seorang gadis polos yang kutemui di dalam kelas.
Akhirnya aku merespons permintaanmu dan kau membuat sebuah website yang memungkinkan aku membuat tulisan balasan atas setiap perspektifmu, tentang apapun.
Kau menamakan laman itu dengan judul besar "(Bukan) Surat-Surat Cinta."
Entahlah, mungkin kau menafsirkan bahwa kita saling berkirim surat namun bukan tentang surat cinta, namun menarik juga membaca hasil reflektifmu tentang pertanyaan eksistensial yang kau artikulasikan secara frontal.
Pada beberapa bagian, aku merasa sedikit kewalahan untuk merespons tulisanmu sehingga memaksaku untuk membuka beberapa buku referensi lama untuk menguatkan apa yang harus kusampaikan.
Kita mulai pada surat pertama tentang kegundahanmu menyaksikan setiap gejala sosial, namun tentu apa yang kutulis kembali di sini tidak seutuhnya, karena kau menulis sangat panjang.
"Jika Tuhan Ada, Kenapa para pejabat korup tidak pernah kena musibah sementara kelompok termarjinalkan terhempas bertubi-tubi?"
Sekian puluh kali saya mendengar pertanyaan yang serupa sejak dua puluh tahun silam ketika masih kuliah namun satu hal yang kupahami bahwa jawaban dari pertanyaan itu buka kata-kata tetapi perjalanan hidup.
Itulah kenapa aku tidak berusaha terlalu keras untuk membalas pertanyaanmu dengan jawaban retoris. Aku menyadari bahwa fase kehidupan yang sedang kau jalani mengharuskanmu untuk bertanya seperti itu.
Jawabannya akan kau temukan di setiap perjalanan hidupmu sepanjang niatanmu memang mencari kebenaran.
Kau tahu, prinsip yang aku pegang dan mungkin terdengar konvensional yaitu ketika niatmu baik dan tulus dalam suatu hal maka cepat atau lambat, kau akan dipertemukan dengan semua tanya di kepalamu.
Aku percaya itu, hanya saja kita manusia seringkali tidak otentik dalam hidup. Kita terkadang mengikuti arus sementara masing-masing manusia memiliki keunikannya.
Ada yang menemukan kebenaran melalui hati, pun ada yang jalannya harus rasional maka hal pertama yang harus kau pastikan bahwa apa yang kau jalani sekarang adalah memang benar-benar otentik dari dalam dirimu.
Serius, ini bukan omong kosong yang aku sampaikan tetapi refleksi mendalam atas apa yang kujalani selama ini. Aku merasa sudah cukup tua, tentu karena tidak lama lagi, aku akan mencapai setengah abad jika semesta mengijinkan.
Setelah topik tentang eksistensi Tuhan, kau tidak mengirimkan lagi suratmu dalam waktu lama. Mungkin suratku tidak sampai atau kau merasa tidak ada gunanya diskusi denganku masalah hal-hal ontologi, tentang hakikat sesuatu.
Hanya satu pesanku bahwa hidup itu adalah masalah, jadi jika tidak mau ingin ada masalah dalam hidupmu maka berangkatlah menuju kematian.
Baca episode sebelumnya dari series tentang Kirana: Braga Kehilangan Kirana (5)