BPBD Kudus Antisipasi Kekeringan Akibat El Nino Godzilla
BPBD Kudus Antisipasi Kekeringan Akibat El Nino Godzilla #newsupdate #update #news #text

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya El Nino Godzilla tahun ini. Berbagai upaya telah dipersiapkan.
Kepala BPBD Kudus, Jawa Tengah, Eko Hari Djatmiko mengatakan El Nino Godzilla sebenarnya bukan merupakan kategori nama ilmiah yang resmi. Kata Godzilla sebenarnya merupakan perumpamaan untuk El Nino yang dampaknya sangat besar.
Dalam hal ini, Eko menyampaikan El Nino Godzilla bukanlah jenis El Nino baru. Melainkan, El Nino yang diprediksi memiliki dampak besar dari segi kekeringan.
"Kami mulai melakukan persiapan sebagai antisipasi ketika terjadi El Nino Godzilla. Petugas kami siagakan 24 jam di posko BPBD Kudus," katanya seusai acara Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (26/4).
El Nino, lanjut Eko, memicu terjadinya kekeringan. Selain itu, menurutnya El Nino mampu mengakibatkan bencana angin puting beliung yang dapat merusak bangunan hingga lahan pertanian.
"El Nino Godzilla diprediksi bisa merobohkan rumah dan memporak-porandakan pertanian. Sementara itu prediksi kami untuk musim kemarau dimulai sekitar Mei sampai tiga bulan ke depan. Maka dari itu kami harus waspada," sambungnya.
Kendati El Nino Godzilla masih sebatas prediksi, pihaknya sudah ancang-ancang sebagai langkah antisipasi, mulai dari menyiapkan sarpras, sumber daya manusia, dan logistik.
"Ketersediaan logistik seperti genteng, batu bata, seng, dan galvalum kami siapkan di posko apabila terjadi bencana yang mengakibatkan robohnya rumah milik warga," terangnya.

3 Titik Rawan Kekeringan
Eko menyebut sejauh ini ada tiga titik rawan kekeringan di Kabupaten Kudus. Ketiganya mencakup Kecamatan Undaan, Kecamatan Mejobo, dan Kecamatan Kaliwungu.
Ketersediaan air bersih BPBD Kudus dinilai cukup untuk antisipasi apabila kekeringan melanda tiga kecamatan tersebut. Pihaknya juga bekerja sama dengan PDAM Kabupaten Kudus guna menyuplai air bersih di tiga kecamatan itu.
Pihak BPBD Kudus kini memiliki dua unit mobil tangki penyuplai air bersih. Masing-masing berkapasitas 3.000 liter dan 5.000 liter. Kedua unit mobil penyuplai air bersih itu disiagakan di posko BPBD Kudus.
"Penyediaan air bersih juga kami lakukan bersama dinas terkait maupun pihak swasta. Di antaranya Dinas PKPLH Kudus, Damkar Kudus, PT Djarum, PT Pura dan lainnya," terangnya.

Ia menyebut selama ini penanganan kekeringan di tiga kecamatan itu tidak menemui kendala. Terlebih, wilayah geografis Kabupaten Kudus tidak terlalu luas. Sehingga setiap ada kebutuhan air bersih di wilayah terdampak kekeringan dapat langsung disuplai.
"Kejadian kekeringan paling sering berada di wilayah Kecamatan Undaan. Namun, untuk saat ini kami belum mendapatkan laporan perihal kebutuhan air bersih di Kecamatan Undaan," jelasnya.
Pihaknya juga telah menyampaikan surat edaran terkait adanya potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Surat edaran tersebut disampaikan ke berbagai desa dan kecamatan melalui relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) dan relawan Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana).
Lebih lanjut, Eko menyampaikan selain potensi El Nino Godzilla yang mengakibatkan kekeringan, Kabupaten Kudus juga memiliki potensi terdampak bencana lain, yakni tanah longsor, banjir, cuaca ekstrem, angin puting beliung, dan gempa bumi.
Setidaknya ada tujuh kecamatan di Kabupaten Kudus yang rawan terjadinya bencana banjir, yakni Kecamatan Jekulo, Kecamatan Mejobo, Kecamatan Undaan, Kecamatan Jati, Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Bae, dan Kecamatan Kota.
Sedangkan daerah rawan longsor di Kabupaten Kudus setiap tahunnya tercatat di dua kecamatan, yakni Kecamatan Dawe dan Kecamatan Gebog. Hal ini seiring dua kecamatan itu memiliki kontur wilayah geografis yang rentan longsor.
Sementara itu, bencana puting beliung juga melanda tiga kecamatan, meliputi Kecamatan Undaan, Kecamatan Dawe, dan Kecamatan Gebog.
Sebagai antisipasi bencana longsor, pihak BPBD telah memasang alat Early Warning System (EWS). Alat tersebut telah terpasang di Desa Menawan dan Rahtawu di Kecamatan Gebog. Serta satu alat lainnya terdapat di Desa Japan, Kecamatan Dawe. Keseluruhan EWS tersebut dipastikan masih berfungsi. Cara kerja EWS yakni mendeteksi apabila ada gerakan tanah.

Sosialiasi Penanganan Bencana di CFD
Sementara itu, pada Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pada Minggu (26/4), pihaknya melaksanakan sosialisasi dan edukasi penanggulangan bencana untuk masyarakat. Pelaksanaan dilakukan di acara Car Free Day (CFD) agar menyasar banyak warga.
Ia menampilkan beragam sarana dan prasarana (sarpras) milik BPBD Kudus untuk penanganan bencana, mulai dari perahu karet, pelampung, baju petugas pemadam kebakaran, Alat Pemadam Api Ringan (APAR), hingga tenda evakuasi berukuran 4 meter x 6 meter.

Pihak BPBD Kudus juga membagikan buku penanggulangan bencana sebagai wawasan bagi masyarakat apabila terjadi bencana. Acara tersebut melibatkan 20 petugas BPBD Kudus.
Eko menyampaikan penanganan bencana membutuhkan peran serta semua pihak, tidak terkecuali masyarakat. Pihaknya berharap semua instansi terkait dan masyarakat dapat bekerja sama mengantisipasi maupun menangani permasalahan bencana.
"Kami berharap adanya acara Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 masyarakat semakin waspada menghadapi bencana," imbuhnya.