BMKG Prediksi Kemarau Terjadi hingga September 2026
BMKG Prediksi Kemarau Terjadi hingga September 2026 #newsupdate #update #news #text

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau tahun ini akan berlangsung panjang. Diperkirakan, musim kemarau akan terjadi hingga September 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan musim kemarau kini mulai banyak dialami banyak wilayah di Indonesia.
“Berdasarkan hasil monitoring perkembangan iklim terkini, BMKG melakukan pemutakhiran informasi prediksi musim kemarau 2026. Dalam beberapa waktu ke depan, akan semakin banyak wilayah Indonesia yang memasuki periode musim kemarau,” kata Ardhasena saat dihubungi kumparan, Minggu (19/7).
BMKG mencatat, sebanyak 198 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 31,6 persen wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatera, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Sementara pada Juli 2026, sebanyak 66 ZOM atau 7,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau, mencakup sebagian wilayah Jambi, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Maluku.
Ardhasena menjelaskan, jika dibandingkan rata-rata klimatologi periode 1991-2020, awal musim kemarau tahun ini cenderung datang lebih cepat di banyak daerah.
Sebanyak 308 ZOM atau 39,77 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim kemarau yang lebih maju dari biasanya. Sementara 165 ZOM diperkirakan sesuai normal, dan 113 ZOM mengalami awal musim kemarau yang lebih lambat.
Selain datang lebih awal, BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 didominasi kondisi bawah normal atau lebih kering dibandingkan biasanya.
“Secara umum musim kemarau 2026 diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya dan normal,” ujar Ardhasena.
BMKG juga mencatat kondisi bawah normal diperkirakan terjadi di 482 ZOM atau sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia. Wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih kering antara lain sebagian Sumatera, Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga sebagian Papua.
Sementara itu, hanya 7 ZOM atau sekitar 0,68 persen wilayah Indonesia yang diprediksi mengalami musim kemarau di atas normal atau lebih basah dari biasanya, yakni sebagian kecil Bengkulu, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur.
Puncak Kemarau Agustus-September

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi secara bertahap mulai Juli hingga September 2026.
Sebanyak 83 ZOM diprediksi mencapai puncak kemarau pada Juli, terutama di sebagian Sumatera, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, serta sejumlah wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Puncak kemarau terluas diprediksi terjadi pada Agustus 2026, mencakup 369 ZOM atau 48,84 persen wilayah Indonesia. Daerah yang terdampak meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Selanjutnya pada September 2026, sebanyak 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak musim kemarau. Wilayahnya meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Papua Pegunungan.
BMKG juga memprediksi durasi musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih lama dibandingkan biasanya di banyak wilayah.
Sebanyak 437 ZOM atau 48,77 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal. Wilayah tersebut mencakup Sumatera bagian utara dan selatan, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian Pulau Papua.
Ardhasena juga menegaskan musim kemarau tahun ini memang diprediksi lebih kering dari kondisi normal.
“Musim kemarau ini di bawah normal, seperti yang sudah sering disampaikan oleh BMKG,” ujarnya.