Biaya Tersembunyi di Perhelatan Piala Dunia Termahal Sepanjang Sejarah
Turnamen paling populer Piala Dunia FIFA 2026 akan resmi bergulir pada 11 Juni 2026 di tiga negara tuan rumah: Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat (AS).#bisnisupdate #update #bisnis #text

Turnamen paling populer Piala Dunia FIFA 2026 akan resmi bergulir pada 11 Juni 2026 di tiga negara tuan rumah: Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat (AS).
Mengutip Bloomberg, terdapat sejumlah catatan kontroversi seputar turnamen termahal dalam sejarah ini justru menjadi sorotan utama.
Dengan harga tiket yang meroket hingga menyentuh angka enam digit, biaya transportasi dan parkir yang bikin geleng-geleng kepala.
Belum lagi ditambah kekhawatiran terhadap kebijakan anti-imigrasi dari pemerintahan Donald Trump, membuat sejumlah suporter fanatik memutuskan untuk batal menonton langsung di stadion.
Sementara itu, kota-kota tuan rumah kini tengah memutar otak untuk menghindari kerugian finansial. Mereka mencoba menutup pembengkakan biaya operasional pertandingan dengan membebankannya kepada konsumen dan wajib pajak lokal.
Di kawasan New York, tempat laga final Piala Dunia akan digelar, New Jersey Transit mematok harga tiket menuju Stadion MetLife sebesar USD 98.
Padahal perjalanan tersebut biasanya hanya memakan biaya sekitar USD 13. Ini hanyalah salah satu contoh tarif premium yang melekat pada ajang yang diproyeksikan bakal menghasilkan pendapatan fantastis hingga USD 13 miliar bagi FIFA.
Dokumenter mingguan Bloomberg Originals kali ini mengulas keunikan Piala Dunia tahun ini dan mengapa ajang ini berisiko mencetak 'gol bunuh diri'.
Sistem Dynamic Pricing Pertama Kali

Tahun ini menjadi momen pertama kalinya FIFA memperkenalkan sistem penentuan harga tiket dinamis (dynamic ticket pricing).
Mengutip The Guardian, tiket dinamis merupakan praktik yang membuat harga tiket berfluktuasi tergantung pada permintaan.
Namun pada kenyataannya, dynamic pricing (penentuan harga dinamis) biasanya berdampak pada kenaikan harga tiket masuk secara keseluruhan, dan tren tersebut sangat terlihat pada Piala Dunia musim panas ini.
Harga rata-rata tiket pertandingan Piala Dunia telah berkisar di atas USD 1.000 sejak tiket mulai dijual, meskipun tampaknya ada batas harga bawah sekitar USD 60 per tiket.
Fifa menyatakan bahwa permintaan tiket untuk turnamen kali ini mencapai rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan lebih dari setengah miliar pengajuan tiket pada fase pertama penjualan.
Mengingat karakteristik dari sistem harga dinamis, lonjakan permintaan secara otomatis mengerek harga jual ke tingkat tertinggi yang pernah ada dalam sejarah sepak bola.
Kota Tuan Rumah Terancam Tekor
Bagi kota-kota tuan rumah, pendanaan untuk sektor keamanan dan transportasi telah menjadi kekhawatiran besar sejak awal.
Pemerintah AS memang telah menyetujui kucuran dana hibah sebesar 625 juta dolar AS untuk 11 kota tuan rumah di AS.
Namun, dana tersebut baru didistribusikan pada bulan Maret lalu dan dinilai masih belum cukup untuk menutup seluruh pengeluaran di lapangan.
Kondisi ini terasa kian berat bagi pemerintah daerah karena kota-kota penyelenggara sama sekali tidak mendapatkan bagian dari pendapatan tiket maupun hak siar pertandingan seluruh keuntungan tersebut mengalir langsung ke kantong FIFA.
Di sisi lain, FIFA berdalih bahwa dana miliaran dolar tersebut dialokasikan kembali untuk mengembangkan sepak bola di seluruh penjuru dunia.
Alhasil, kota-kota tuan rumah praktis hanya bisa bergantung pada dampak ekonomi dari belanja wisatawan internasional untuk menutup modal besar yang telah mereka keluarkan.
Sayangnya, skenario balik modal ini jarang sekali berhasil terwujud.
"Itu jumlah uang yang lumayan, tetapi masih jauh dari cukup untuk menangani potensi masalah keamanan," ujar Andrew Zimbalist, penulis sekaligus profesor ekonomi di Smith College, saat mengomentari dana hibah dari pemerintah.
"Jika Anda menghadapi beban biaya yang besar di satu sisi, sementara di sisi lain pendapatan langsung Anda bisa dibilang nol, maka Anda akan mengalami kerugian bersih yang besar. Memang, sebagian dari biaya itu akan ditutup oleh kesepakatan sponsor lokal dan donasi pihak swasta, tetapi sisa subsidinya tetap harus ditanggung oleh para wajib pajak," jelasnya.