Bedah Album Baru Bernadya: Saat Hidup Tenang Justru Menakutkan
Bernadya menyapa para pendengarnya lewat album Semoga Hanya di Mimpi.#kumparanHITS #newsupdate

Penyanyi Bernadya kembali menyapa pendengarnya lewat album kedua bertajuk Semoga Hanya di Mimpi. Berbeda dari album sebelumnya yang banyak mengisahkan patah hati, kali ini Bernadya mengangkat keresahan yang mungkin pernah dirasakan banyak orang, yakni takut ketika hidup terasa terlalu tenang.
Perasaan itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi benang merah yang menghubungkan hampir seluruh lagu di album tersebut. Menariknya, ide itu muncul saat Bernadya berdiskusi dengan Baskara Putra atau Hindia. Kala itu, Bernadya mengaku kebingungan mencari tema untuk album keduanya karena merasa hidupnya sedang berjalan baik-baik saja.
“Bernadya bilang, ‘Gue enggak tahu nih mau nulis apa buat album kedua.’ Terus gue bilang, ‘Ya udah, kenapa enggak itu aja yang ditulis? Lo enggak tahu mau nulis apa karena hidup lo lagi sangat tenang,’” kata Baskara saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.
Dari percakapan itu lahirlah Semoga Hanya di Mimpi. Judul album tersebut merepresentasikan harapan agar segala ketakutan yang muncul di tengah hidup yang damai hanyalah bunga tidur, bukan kenyataan.
Dalam album Semoga Hanya di Mimpi, Bernadya menghadirkan 10 lagu yang saling terhubung oleh benang merah tentang kecemasan, ketenangan, hingga proses menerima kenyataan. Meski masing-masing memiliki cerita yang berbeda, setiap lagu menawarkan sudut pandang tersendiri terhadap emosi yang ingin disampaikan Bernadya. Berikut ulasan singkat beberapa lagunya.

“Laut yang Tenang” Jadi Gambaran Kecemasan
Gagasan kecemasan akan hidup yang terlalu tenang itu paling terasa dalam lagu “Laut yang Tenang” yang menjadi title track album tersebut. Lewat lagu ini, Bernadya menggambarkan ketenangan sebagai sesuatu yang justru membuat waswas. Laut memang terlihat damai, tetapi siapa yang tahu kapan ombak besar datang?
Perasaan itu dituangkan lewat lirik: “Hidup terlalu lurus akhir-akhir ini, senyum mengalir jalani hari, namun laut yang tenang patut dicurigai,”. Lirik tersebut menggambarkan kecemasan yang muncul bukan karena masalah, melainkan karena takut ketenangan itu tidak akan berlangsung lama.

“Tolong Bilang Ini Mimpi”: Saat Ketakutan Seolah Menjadi Nyata
Narasi tersebut kemudian berlanjut di lagu “Tolong Bilang Ini Mimpi”. Jika “Laut yang Tenang” berbicara tentang rasa takut akan datangnya musibah, maka lagu ini terasa seperti jawaban ketika ketakutan itu benar-benar terjadi.
Hal itu tergambar lewat lirik: “Andai bisa kuhapus yang kutulis waktu itu, lagu tentang takutku kini jadi sebuah kutuk,”. Lirik tersebut seolah memperlihatkan penyesalan karena rasa takut yang pernah dituliskan justru terasa menjadi kenyataan.

Memilih Diam Lewat “Sebelum Jadi Panjang”
Tak semua lagu di album ini berbicara tentang kecemasan yang besar. “Sebelum Jadi Panjang” justru mengangkat kebiasaan banyak orang yang memilih memendam perasaan agar persoalan tidak semakin rumit.
Lewat lirik: “Ada banyak yang aku simpan, rasanya tak begitu perlu diceritakan. Satu kata terucap, tangisku pasti pecah. Lebih baik ku diam sebelum jadi panjang,”. Bernadya menggambarkan dilema ketika seseorang memilih diam karena merasa berbicara hanya akan memperpanjang masalah.

Kerinduan dalam “Rabun Jauh”
Sementara itu, “Rabun Jauh” menggunakan metafora penglihatan untuk menceritakan kerinduan. Layaknya seseorang yang tak bisa melihat jelas tanpa kacamata, lagu ini menggambarkan keinginan untuk kembali melihat sosok yang dirindukan dari kejauhan. Lagu tersebut terasa seperti harapan sederhana agar seseorang masih berada di sana dan tetap memandang dengan hangat.

Nuansa Lebih Ceria Bersama Perunggu di “Peluk Aku Sekarang!”
Di tengah lagu-lagu yang penuh refleksi, Bernadya juga menghadirkan warna berbeda lewat “Peluk Aku Sekarang!”, hasil kolaborasinya dengan Perunggu. Dibalut nuansa musik pop-rock era 2000-an, lagu ini terdengar lebih ringan dibanding trek lainnya. Namun, tema yang diangkat tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lagu tersebut bercerita tentang seseorang yang lelah menjalani hari dan hanya ingin pulang untuk dipeluk orang yang dicintai. Nuansa 2000-an juga terlihat dari adanya suara telepon di awal dan akhir musik yang mengingatkan pada tren wartel zaman dahulu.
Lewat album “Semoga Hanya di Mimpi”, Bernadya tidak hanya berbicara soal kehilangan atau patah hati. Ia justru mengajak pendengarnya melihat sisi lain dari kehidupan bahwa rasa takut bisa hadir bahkan ketika semuanya tampak berjalan baik-baik saja. Dan mungkin, seperti harapan dalam judul albumnya, segala kecemasan itu memang semoga hanya terjadi di mimpi.