Beda Penyakit Pes dan Hantavirus yang Menyebar di Kapal Pesiar
Sama-sama ditularkan dari tikus, apa bedanya hantaviru dan penyakit pes? Ini kata dokter. #kumparanSAINS

Hantavirus jenis Andes merebak di sebuah kapal pesiar MV Hondius milik Oceanwide Expeditions di Samudra Atlantik. Tiga orang meninggal dunia dan beberapa lainnya terinfeksi.
Di tengah kekhawatiran itu, muncul pertanyaan publik: Seberapa berbahaya hantavirus, dan apa bedanya dengan penyakit lain yang juga ditularkan tikus seperti pes?
Beda Hantavirus dan Pes
Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia Komisariat Kota Depok sekaligus Sekretaris IDI Cabang Kota Depok, dr. Dewangga Gegap Gempita, MARS., menjelaskan bahwa hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui paparan urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat, terutama tikus yang terinfeksi.
Penularan umumnya terjadi saat partikel virus terbawa udara dan terhirup manusia, misalnya ketika membersihkan area yang terkontaminasi tanpa perlindungan.
“Penularan bisa terjadi dari udara yang terkontaminasi atau kontak langsung. Misalnya membersihkan kotoran tikus tanpa sarung tangan atau tanpa menjaga kebersihan tangan dengan benar,” kata Dewangga kepada kumparan.

Gejala hantavirus sendiri bisa beragam, mulai dari demam, gangguan pencernaan, hingga infeksi paru-paru berat yang berujung pada gangguan pernapasan serius. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang berpotensi fatal.
Hantavirus kerap disamakan dengan pes karena berasal dari tikus. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar.
Menurut Dewangga, perbedaan utama terletak pada jenis patogennya. Hantavirus, sesuai namanya, disebabkan oleh virus. Sementara pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis.
Kalau hantavirus jelas disebabkan virus, sedangkan pes itu bakteri. Jadi meskipun sama-sama ditularkan dari tikus, agen penyebabnya berbeda. - dr. Dewangga Gegap Gempita, MARS -
Selain itu, cara penularannya juga memiliki karakteristik berbeda. Hantavirus lebih sering menyebar melalui partikel udara dari kotoran tikus yang terhirup manusia. Sementara pes umumnya ditularkan melalui gigitan kutu yang hidup pada tubuh tikus, meski dalam kondisi tertentu juga bisa menyebar lewat kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi.
Pes sendiri dikenal sebagai penyakit yang pernah memicu pandemi besar dalam sejarah, seperti Black Death di abad ke-14. Hingga kini, penyakit ini masih ditemukan di beberapa wilayah, terutama di daerah dengan sanitasi buruk atau saat terjadi banjir yang memungkinkan urine tikus bercampur dengan air.

“Banjir itu berisiko tinggi untuk pes, karena urine tikus bisa bercampur dengan air. Kalau kebersihan tidak dijaga, penularannya jadi lebih mudah,” kata Dewangga.
Lantas, apakah hantavirus bisa menyebar secepat COVID-19? Dewangga menilai, semua ini akan tergantung pada satu komunitas yang di sana terdapat wabah hantavirus. Virus pada dasarnya memang mudah menular. Namun, kalau komunitas itu memisahkan diri dari inang, atau orang yang terinfeksi di sini, maka penularan akan melambat.
Artinya, perilaku dalam menangani wabah virus itu akan sama seperti kita menangani Covid-19. Risiko penularan semakin tinggi ketika lingkungan dan kebersihan tidak dijaga. Imunitas tubuh juga menjadi faktor penting dalam menentukan kerentanan seseorang terhadap infeksi.
“Selama kita menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung saat membersihkan area berisiko, dan menjaga daya tahan tubuh, sebenarnya risiko bisa ditekan,” ujarnya.