Beban, Tekanan, dan Rendahnya Dukungan pada Ibu Rumah Tangga
Strategi penyelesaian masalah yang maladaptif pada ibu rumah tangga kerap kali muncul dan menghantui kehidupan sehari-hari banyak perempuan di sekitar kita.

Bagi banyak perempuan, menjadi ibu merupakan mimpi berkilau yang kerap menghampiri bunga tidur di malam hari. Membangun keluarga yang saling mencintai, menjaga, dan merawat terdengar bagai kidung indah yang menyegarkan pendengaran. Namun, tak jarang peran ganda bagi seorang perempuan yang juga menyandang status ibu memainkan peran yang jauh lebih dari itu.
Seperti yang diketahui, selaku seorang ibu, perempuan banyak mengorbankan waktu, tenaga, usaha, hingga kapasitas mental yang dimiliki guna memastikan kesejahteraan keluarga agar tetap berjalan dengan stabil dan terkendali. Pada banyak kasus, peranan sebagai ibu menuntut adanya kemampuan untuk merencanakan, mengelola, bahkan hingga mendidik tanpa mengenal jam kerja yang memicu adanya dorongan di luar daya kemampuan yang dimiliki.
Hal ini tentunya berdampak pada bagaimana kesehatan mental ibu ke depannya. Berdasarkan banyak hasil penelitian, ibu berpotensi besar dalam menjalankan strategi penyelesaian masalah atau coping mechanism yang cenderung negatif dan destruktif untuk tetap melanjutkan rutinitas kehidupannya di tengah masalah yang sedang dihadapi. Ini banyak dikenal dengan sebutan maladaptive coping atau strategi penyelesaian masalah yang umumnya hanya dapat mengurangi ketidaknyamanan dalam jangka pendek melalui avoidance atau denial, yang justru berdampak pada pemburukan jangka panjang.
Beberapa strategi maladaptive coping sendiri bahkan sangat berkaitan dengan tingkat tekanan psikologis yang tinggi, misalnya kecemasan dan depresi pada remaja dan orang dewasa (Thompson et al., 2010). Umumnya, maladaptive coping pada ibu rumah tangga sendiri dapat berbentuk social withdrawal, emotional suppression, hingga adanya behavioral disengagement atau kondisi di mana individu menyerah dan tidak lagi mencari solusi untuk kembali bangkit.
Ibu rumah tangga yang terbiasa melakukan maladaptive coping sendiri akan cenderung berkutat dengan regulasi emosi yang buruk dan tidak adaptif apabila sedang dihadapkan dengan masalah. Hal ini berkorelasi erat dengan bagaimana nantinya ibu akan mendidik anak, memberikan afeksi pada suami, menerima dukungan sosial, serta mengelola tekanan dari keluarga. Kendati demikian, hal-hal tersebut juga turut berkorelasi erat sebagai penyebab dasar adanya maladaptive coping pada ibu rumah tangga sendiri.
Junaidi et al. (2022) menunjukkan bahwa stres pada ibu rumah tangga yang tidak bekerja seringkali berkaitan dengan faktor-faktor seperti isolasi sosial, kurangnya dukungan emosional, serta ekspektasi peran tradisional yang membatasi kesempatan pribadi maupun perkembangan individu.
Dapat dipahami bahwa kondisi sekitar berperan penting baik sebagai faktor penyebab ataupun faktor pelindung bagi kesehatan mental ibu. Kondisi sekitar yaitu keluarga, teman, dan lingkungan sosial yang baik mampu mendukung ibu untuk dapat menyelesaikan masalahnya menggunakan strategi yang lebih adaptif. Sebaliknya, kondisi sekitar yang buruk dan banyak menuntut dapat menimbulkan konflik interpersonal pada ibu yang membuatnya beralih untuk mengaplikasikan metode maladaptive coping.

Pada salah satu kesempatan pemberian psikoedukasi seputar “Semangat Kartini dan Emansipasi Wanita dalam Meregulasi Emosi di Era Digital” kepada ibu-ibu kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW di sekitar perumahan Biro Psikologi Psy Up, Malang, banyak ditemukan faktor rendahnya dukungan sekitar yang mempengaruhi strategi penyelesaian masalah pada ibu-ibu rumah tangga. Kegiatan yang dilangsungkan pada 4 April 2026 ini membawakan berbagai insight seputar bagaimana sudut pandang ibu selaku pondasi kesejahteraan rumah tangga dalam menghadapi serta menyelesaikan keresahan-keresahan yang dialami. Berdasarkan hasil observasi, didapatkan temuan seperti faktor ekonomi, pola asuh, rendahnya dukungan sosial, dan stres tekanan keluarga yang menjadi tantangan terberat yang kerap dialami oleh ibu rumah tangga.
Kondisi ini menyebabkan ibu mengembangkan metode maladaptive coping seperti emotional suppression yaitu penekanan emosi yang urung untuk diekspresikan atau “dipendam”. Oleh sebab itu, penting bagi kita selaku bagian dari lingkungan sosial untuk dapat memberikan dukungan penuh dan menjadi ruang aman bagi ibu rumah tangga di sekitar kita. Biro Psikologi Psy Up sendiri selaku institusi kesehatan yang berfokus kesehatan mental mendukung adanya program penyejahteraan ibu rumah tangga dengan melakukan pendekatan-pendekatan mental seperti psikoedukasi yang diharap mampu untuk memberikan wawasan serta serta menjadi wadah yang aman bagi keresahan di sekitar.
Dengan usaha-usaha kita bersama, ibu rumah tangga diharap mampu mengembangkan kemampuan serta keterampilannya dalam mengelola emosi dengan lebih matang agar dapat memiliki kualitas interaksi yang baik dengan keluarga dan juga lingkungan. Dukungan sosial yang terpenuhi dengan baik sendiri dapat menjadi faktor protektif yang dapat melindungi ibu rumah tangga dari potensi adanya masalah kesehatan mental yang lebih serius seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, gangguan stres pasca trauma (PTSD), gangguan obsesif kompulsif, dan masalah-masalah kesehatan mental yang lainnya.
Ibu rumah tangga yang adaptif dalam mengelola masalahnya tentunya dapat membangun hubungan keluarga yang harmonis, sejahtera, dan berbahagia tanpa perlu mengkhawatirkan dampak negatif sebagaimana apabila ibu melakukan koping yang membahayakan atau maladaptif. Pada akhirnya, kesejahteraan psikologis tidaklah tumbuh secara instan, melainkan dibangun melalui proses yang konsisten, suportif, dan terus berkelanjutan. Upaya kecil yang dilakukan secara kolektif di hari ini dapat menjadi pijakan awal bagi terciptanya kehidupan yang lebih bermakna dan berdaya di masa depan.