News Berita

Balita Suka Potong Rambut Sendiri? Ini Alasannya dan Cara Menyikapinya

Kenapa balita tiba-tiba memotong rambutnya sendiri? Simak alasannya! #momsupdate #moms #update #text

Balita Suka Potong Rambut Sendiri? Ini Alasannya dan Cara Menyikapinya
Balita Suka Potong Rambut Sendiri? Ini Alasannya dan Cara Menyikapinya. Foto: eggeegg/Shutterstock
Balita Suka Potong Rambut Sendiri? Ini Alasannya dan Cara Menyikapinya. Foto: eggeegg/Shutterstock

Sebuah video yang diunggah oleh seorang ibu dengan akun TikTok @asrinceisya menarik perhatian warganet. Dalam video tersebut, sang ibu memperlihatkan kondisi poni balitanya yang sudah terpotong tidak beraturan. Ia mengaku kejadian itu terjadi saat dirinya hanya sebentar meninggalkan anak untuk menidurkan adiknya.

“Ditinggal ngelonin adeknya sebentar jadilah poni croptop,” tulisnya dalam keterangan video.

@asrinceisya

Ditinggal ngelonin adeknya sebentar jadilah poni croptop🥲 #toddlersoftiktok #fyp #fuji #toddlerlife

♬ suara asli - ASRINNR🌻🌸🍒 - ASRINNR🌻🌸🍒

Fenomena balita yang tiba-tiba memotong rambut sendiri ternyata bukan hal yang aneh. Psikolog Anak, Fabiola Priscilla, M.Psi, menjelaskan bahwa perilaku tersebut umum terjadi pada usia balita.

Kenapa Balita Suka Memotong Rambut Sendiri?

-Rasa ingin tahu yang tinggi

Menurut Fabiola, salah satu penyebab utamanya adalah rasa ingin tahu yang sangat besar. Di usia ini, anak sedang aktif mengeksplorasi berbagai hal di sekitarnya, termasuk mencoba memahami sebab-akibat dari tindakan yang mereka lakukan.

“Rasa ingin tahu yang diiringi oleh keinginan anak untuk memiliki kendali atas diri sendiri dapat memunculkan perilaku yang spontan dan luar ekspektasi orang tua,” tutur Fabiola kepada kumparanMOM, Minggu (19/4).

Ilustrasi balita dan orang tua. Foto: buritora/Shutterstock
Ilustrasi balita dan orang tua. Foto: buritora/Shutterstock

-Pengalaman yang menarik bagi anak

Selain itu, proses memotong rambut itu sendiri bisa menjadi pengalaman yang menarik bagi anak. Mereka bisa melihat perubahan secara langsung dari rambut panjang menjadi pendek, mendengar suara gunting saat digunakan, hingga merasakan tekstur rambut setelah dipotong. Semua itu memberikan sensasi baru yang memicu rasa penasaran.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah proses belajar melalui peniruan. Anak cenderung mencontoh apa yang mereka lihat. Bisa jadi, sebelumnya mereka pernah melihat ibunya potong rambut di salon atau menyaksikan orang tua memotong rambut anggota keluarga lain di rumah.

Ilustrasi balita. Foto: MIA Studio/Shutterstock
Ilustrasi balita. Foto: MIA Studio/Shutterstock

Bagaimana Sikap Orang Tua Saat Menghadapinya?

Fabiola menekankan pentingnya tetap tenang. Orang tua disarankan untuk tidak panik, tidak membentak, atau menunjukkan reaksi berlebihan. Respons yang terlalu keras justru bisa membuat anak takut mencoba hal baru, bahkan berpotensi menghambat kreativitas dan inisiatifnya.

Sebagai gantinya, orang tua bisa memberikan penjelasan sederhana yang sesuai dengan usia anak. Misalnya, menjelaskan bahwa gunting boleh digunakan untuk kertas atau kerajinan, sementara rambut sebaiknya dipotong oleh orang dewasa yang memiliki keterampilan.

Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan
Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

“Anak juga dapat diberikan pengertian dampak yang dapat terjadi jika memotong rambutnya sendiri. Misalnya dapat terkena bagian tajam dari gunting, atau hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan keinginan,” tegasnya.

Cara Mencegah Kejadian Terulang

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, langkah paling penting adalah memastikan benda tajam seperti gunting disimpan di tempat yang tidak mudah dijangkau anak. Selain itu, orang tua bisa menetapkan batasan penggunaan gunting hanya untuk aktivitas tertentu.

Ilustrasi anak membuat slime. Foto: Shutterstock
Ilustrasi anak membuat slime. Foto: Shutterstock

Selain itu, yang tak kalah penting, berikan alternatif kegiatan yang dapat memenuhi rasa ingin tahu anak dengan cara yang lebih aman. Misalnya, bermain slime untuk mengeksplorasi tekstur.

“serta memotong playdough dengan spatula untuk memuaskan rasa ingin tahu akan dampak dari benda yang dipotong,” ujar Fabiola.

Aktivitas-aktivitas ini dapat membantu menyalurkan kebutuhan eksplorasi anak sekaligus melatih kemampuan motorik halus mereka.

Buka sumber asli