News Berita

Bali Tak Lagi Favorit Turis Australia, Pengamat Soroti Macet hingga Sampah

Pergeseran tersebut menjadi sinyal perubahan preferensi wisatawan Australia. #kumparanTRAVEL #newsupdate

Bali Tak Lagi Favorit Turis Australia, Pengamat Soroti Macet hingga Sampah
Ilustrasi wisatawan di Bali Foto: Dok. Kementerian Pariwisata
Ilustrasi wisatawan di Bali Foto: Dok. Kementerian Pariwisata

Bali mulai tergeser sebagai destinasi favorit turis Australia setelah data terbaru Biro Statistik Australia atau Australian Bureau of Statistics (ABS), yang menunjukkan Jepang menyalip Indonesia sebagai tujuan liburan Asia terpopuler pada Februari 2026.

Menanggapi hal itu, pengamat pariwisata sekaligus Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Prof Azril Azahari Ph.D, menilai pergeseran tersebut menjadi sinyal perubahan preferensi turis Australia yang kini semakin mengutamakan faktor keamanan, kenyamanan, dan destinasi yang berkualitas.

Wisatawan membawa papan selancar berjalan menuju ke tengah laut saat berlibur di Pantai Kuta, Badung, Bali, Senin (25/9/2023). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto
Wisatawan membawa papan selancar berjalan menuju ke tengah laut saat berlibur di Pantai Kuta, Badung, Bali, Senin (25/9/2023). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto

Menurutnya, turis pascapandemi tidak lagi hanya mencari panorama atau harga murah, tetapi juga mempertimbangkan aspek safety, security, kebersihan, sanitasi, serta kemudahan mobilitas.

“Sekarang perilaku turis sudah berubah. Mereka lebih melihat keamanan, kebersihan, dan kenyamanan selama berlibur,” ujar Prof Azril, saat dihubungi kumparan pada Selasa (21/4).

Ia menilai Bali menghadapi sejumlah persoalan klasik yang belum tertangani optimal, mulai dari kemacetan parah saat musim liburan, persoalan sampah, hingga isu kriminalitas terhadap turis asing.

Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi citra Bali di mata turis mancanegara, termasuk pasar Australia yang selama ini dikenal loyal.

Wisatawan berjalan kaki dari tol menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mengejar jadwal penerbangan, akibat kemacetan parah di Taman Bundaran Bandara Ngurah Rai, Bali, Jumat (29/12/2023). Foto: Instagram/@infodenpasar
Wisatawan berjalan kaki dari tol menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mengejar jadwal penerbangan, akibat kemacetan parah di Taman Bundaran Bandara Ngurah Rai, Bali, Jumat (29/12/2023). Foto: Instagram/@infodenpasar

Prof Azril mencontohkan waktu tempuh dari bandara ke kawasan wisata yang kini bisa memakan waktu hingga berjam-jam akibat kemacetan.

Menurutnya, pengalaman liburan yang tidak efisien dapat membuat turis mempertimbangkan destinasi lain yang lebih tertata.

Di sisi lain, Jepang dinilai berhasil menawarkan pengalaman wisata yang lebih konsisten, bersih, aman, dan terorganisir. Selain itu, negara tersebut juga dinilai mampu menghadirkan beragam destinasi di luar kota utama, sehingga turis memiliki banyak pilihan.

10 Negara Tujuan utama berdasarkan kedatangan turis Australia. Foto: Dok. Australian Bureau of Statistics
10 Negara Tujuan utama berdasarkan kedatangan turis Australia. Foto: Dok. Australian Bureau of Statistics

Meski demikian, ia menegaskan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk merebut kembali pasar Australia, jika mampu melakukan pembenahan serius. Salah satunya dengan mengembangkan destinasi alternatif, seperti Mentawai yang dinilai memiliki daya tarik kuat bagi turis Australia, khususnya pecinta selancar.

“Kalau akses dan infrastrukturnya dibenahi, Mentawai bisa jadi magnet baru. Ombaknya kelas dunia dan sangat diminati wisatawan Australia,” katanya.

Ia pun mendorong pemerintah pusat dan daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pariwisata Bali, termasuk kapasitas turis, kualitas lingkungan, keamanan, serta distribusi wisata ke destinasi lain, agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada Bali semata.

Buka sumber asli