News Berita

Apakah Bahasa Kolokial Merusak Bahasa Indonesia?

Bahasa kolokial pada dasarnya merupakan ragam bahasa yang muncul dalam situasi santai dan lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Apakah Bahasa Kolokial Merusak  Bahasa Indonesia?
Bahasa. Foto: Pexels by Gül Isiq.
Bahasa. Foto: Pexels by Gül Isiq.

Setiap hari kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Ketika berbicara dengan teman, kita mungkin lebih banyak menggunakan kata "nggak", "udah", "gua", atau "lu" dibandingkan bentuk bakunya seperti "tidak", "sudah", "saya", dan "anda". Kata-kata seperti ini sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari yang banyak ditemui di masyarakat perkotaan. Namun, penggunaan bahasa seperti ini sering kali dianggap sebagai ancaman bagi bahasa Indonesia. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa bahasa seperti ini, atau yang dikenal sebagai kolokial dalam istilah akademik dapat merusak kemurnian bahasa Indonesia. Pertanyaannya, benarkah demikian?

Bahasa kolokial pada dasarnya merupakan ragam bahasa yang muncul dalam situasi santai dan lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari. Ragam bahasa ini berkembang secara alami di tengah masyarakat sebagai bagian dari kebutuhan komunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, orang cenderung memilih bentuk bahasa yang lebih praktis, lebih cepat diucapkan, dan lebih mudah dipahami oleh satu sama lain. Oleh karena itu, bahasa kolokial sering kali berbeda dengan kaidah bahasa baku yang diajarkan di sekolah atau digunakan dalam situasi-situasi formal.

Mengobrol. Foto: Pexels by Lilik Haryaditri.
Mengobrol. Foto: Pexels by Lilik Haryaditri.

Bahasa kolokial sendiri memiliki ciri-ciri yang bisa ditemukan dengan mudah dalam percakapan di masyarakat. Salah satunya adalah penggunaan pronomina kolokial seperti "gua", "gue", dan "lu". Selain itu, terdapat pula penghilangan fonem, misalnya kata "udah" yang berasal dari kata "sudah" atau "enggak" yang sering diucapkan menjadi "nggak". Bentuk lain yang cukup sering ditemukan adalah pemendekan kata, seperti "aja" dari "saja". Bentuk-bentuk tersebut muncul bukan karena masyarakat tidak memahami bahasa Indonesia, melainkan karena bahasa selalu berkembang mengikuti kebutuhan para penuturnya.

Jika diperhatikan lebih jauh, fungsi bahasa kolokial sebenarnya cukup penting dalam kehidupan sosial. Bahasa kolokial membantu menciptakan suasana komunikasi yang lebih akrab dan tidak berjarak. Ketika seseorang berbicara dengan teman dekat menggunakan kata "gua" dan "lu", hubungan yang terbangun terasa lebih santai dibandingkan jika menggunakan bahasa yang terlalu formal. Selain itu, bahasa kolokial juga membuat komunikasi menjadi lebih efisien karena bentuk-bentuk katanya cenderung lebih singkat dan mudah diucapkan oleh kebanyakan masyarakat urban modern seperti saat ini. Alasan bahasa kolokial tetap bertahan hingga sekarang bukan semata-mata karena lebih praktis, tetapi juga karena mampu menciptakan rasa kedekatan antarpenutur. Dalam banyak situasi, seseorang tidak hanya ingin menyampaikan informasi, tetapi juga ingin membangun hubungan sosial dengan lawan bicaranya. Bahasa yang terlalu formal terkadang menciptakan jarak, sedangkan bahasa kolokial membuat percakapan terasa lebih hangat dan alami.

Menariknya, penggunaan bahasa kolokial tidak hanya ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Banyak penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk kolokial juga hadir dalam forum yang relatif formal, termasuk program televisi, diskusi publik, bahkan debat politik. Hal ini membuktikan bahwa bahasa kolokial bukan sekadar kebiasaan anak muda perkotaan, melainkan sudah menjadi bagian dari realitas berbahasa masyarakat Indonesia. Sulit membayangkan masyarakat modern benar-benar terlepas dari bentuk-bentuk bahasa yang lebih santai dan praktis seperti ini.

Apakah benar bahasa Indonesia yang baku terancam keberadaannya? Bahasa kolokial bukan musuh bahasa Indonesia. Musuh yang sebenarnya adalah ketidakmampuan kita memahami bahwa bahasa selalu bergerak mengikuti kehidupan manusia. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat akan selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman, teknologi, dan budaya. Yang perlu dijaga bukanlah menghilangkan bahasa kolokial, melainkan memahami konteks penggunaannya. Bahasa baku tetap diperlukan dalam situasi resmi, sedangkan bahasa kolokial memiliki tempatnya sendiri dalam komunikasi sehari-hari. Sebab bahasa yang sehat bukanlah bahasa yang membeku dalam aturan, melainkan bahasa yang mampu hidup dan berkembang bersama para penuturnya.

Buka sumber asli