News Berita

Apa Itu ADHD?

Sering lupa, susah fokus, dan mudah terdistraksi? Bisa jadi bukan karena malas. Ini ciri-ciri ADHD pada orang dewasa yang sering tidak disadari.

Apa Itu ADHD?
Ilustrasi otak ADHD. Photo by Studio KVR on Unsplash
Ilustrasi otak ADHD. Photo by Studio KVR on Unsplash

Kalau kamu sering lupa di mana menaruh kunci, sulit fokus saat rapat, atau selalu merasa “kepala penuh” padahal belum ngapa-ngapain, mungkin kamu pernah bercanda soal itu. “Aduh, kayaknya aku ADHD deh.”

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) selama ini lekat dengan gambaran anak yang tidak bisa duduk diam di kelas. Padahal kondisi ini tidak berhenti di usia sekolah. ADHD adalah gangguan perkembangan yang dimulai sejak masa kanak-kanak dan menyertai seseorang sepanjang hidupnya, dengan prevalensi antara 3 hingga 5 persen pada orang dewasa (Soler-Gutiérrez et al., 2023). Banyak dari mereka bertahun-tahun menyalahkan diri sendiri atas kesulitan yang sebetulnya punya penjelasan ilmiah.

Bukan Soal Malas atau Kurang Usaha

ADHD adalah gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang memengaruhi perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Ini bukan soal karakter yang lemah atau kurang disiplin. Menurut Barkley, ADHD adalah gangguan regulasi diri sekaligus gangguan fungsi eksekutif, karena individu yang terdampak mengalami kesulitan lebih besar dalam menggunakan fungsi eksekutif untuk mengatur diri sendiri (Soler-Gutiérrez et al., 2023).

Penelitian terbaru mengidentifikasi adanya tren peningkatan diagnosis ADHD pada orang dewasa dari tahun 2020 hingga 2023 (American Psychiatric Association, 2025). Ini bukan berarti ADHD tiba-tiba jadi “tren.” Lebih tepatnya, kesadaran yang selama ini terlambat mulai menangkap kasus-kasus yang sudah lama terlewat.

Seperti Apa Rasanya Punya ADHD saat Dewasa?

Gejalanya tidak selalu kelihatan dari luar. Banyak orang dewasa sudah belajar beradaptasi, membangun rutinitas untuk menutupi kesulitannya. Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, polanya cukup konsisten.

Soal fokus, orang dengan ADHD bukan tidak bisa fokus sama sekali. Mereka justru bisa tenggelam berjam-jam dalam hal yang menarik bagi mereka, yang dikenal sebagai hyperfocus. Masalahnya muncul saat harus berkonsentrasi pada hal yang rutin dan membosankan. Otak seperti menolak untuk bekerja, bukan karena tidak mau, tapi karena secara neurologis memang lebih sulit.

Soal menunda pekerjaan, ini bukan kemalasan biasa. Otak kesulitan untuk sekadar memulai sesuatu, bahkan ketika individu sangat ingin menyelesaikannya. Mereka bisa duduk berjam-jam di depan layar tanpa mengerjakan apa-apa, dan itu menyiksa.

Soal lupa dan tidak terorganisir, perempuan dengan ADHD lebih sering menunjukkan gejala tipe inatentif, dengan ciri khas mudah teralihkan, tidak terorganisir, dan sering lupa (Attoe & Climie, 2023). Lupa janji, kehilangan barang, melewatkan tenggat waktu bukan karena tidak peduli. Memori kerja mereka memang bekerja dengan cara yang berbeda.

Soal emosi, ini bagian yang paling jarang dibahas. Studi terbaru mengarahkan pada gejala keempat inti ADHD yang berkaitan dengan pemrosesan emosi, suatu aspek yang berdampak besar pada kehidupan sosial dan profesional penderitanya (Soler-Gutiérrez et al., 2023). Kondisi ini sering disebut Rejection Sensitive Dysphoria (RSD): satu komentar kecil bisa terasa seperti penolakan besar, dan perasaan itu datang tiba-tiba dan sangat intens.

Kenapa Banyak yang Tidak Pernah Tahu?

Ada alasan mengapa banyak orang dewasa, terutama perempuan, baru menyadari kondisi ini jauh di usia dewasa.

Perempuan lebih cenderung menunjukkan gejala inatentif dibanding hiperaktif, yang lebih sulit dikenali dan lebih kecil kemungkinannya memicu rujukan untuk diagnosis (Attoe & Climie, 2023). Mereka tidak berlarian, tidak membuat gaduh. Mereka diam, melamun, dan dianggap “pemimpi” atau “terlalu sensitif.”

Faktor yang berkontribusi pada kurangnya diagnosis ADHD pada perempuan meliputi perbedaan presentasi gejala, komorbiditas, serta bias gender dari orang tua, guru, dan tenaga kesehatan (Almekhlafi & Jain, 2024). Selain itu, di Indonesia, stigma terhadap kesehatan mental masih membuat banyak orang memilih diam daripada mencari bantuan profesional.

Akibatnya, banyak yang tumbuh dengan label yang salah. Dianggap malas, tidak serius, atau kurang bersyukur. Padahal yang terjadi jauh lebih kompleks dari itu.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Kalau banyak hal di atas terasa familiar, itu bukan alasan untuk langsung menyimpulkan diagnosis sendiri. Tapi itu cukup sebagai alasan untuk tidak mengabaikannya begitu saja.

Cari psikolog atau psikiater yang berpengalaman dengan ADHD dewasa. Minta asesmen yang menyeluruh. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat secara dramatis mengubah hasil jangka panjang, termasuk mengurangi hambatan akademis, profesional, dan hubungan interpersonal (Attoe & Climie, 2023).

Yang paling penting dari semua ini: berhenti menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang tidak sepenuhnya dalam kendalimu. Otak yang bekerja berbeda bukan berarti otak yang rusak.

Buka sumber asli