Antusias Anak Muda Ramaikan Tradisi Mubeng Beteng
Mubeng Beteng merupakan tradisi jalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta, tanpa suara, tanpa gadget, full refleksi diri. #kumparanHITS #newsupdate

Malam 1 Suro di Yogyakarta selalu menawarkan atmosfer yang berbeda. Di tengah gemerlap lampu kota, ribuan orang melangkah dalam diam di sepanjang benteng Keraton Yogyakarta, Rabu (17/6) dini hari.
Bukan tanpa alasan, mereka tengah melestarikan Tradisi Topo Bisu atau Mubeng Beteng. Mubeng Beteng merupakan tradisi jalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta. Tanpa suara, tanpa gadget, full refleksi diri.
Tradisi ini dilakukan untuk merayakan tahun baru Jawa. Tradisi tersebut kini nampaknya telah menjadi ruang refleksi bagi generasi muda. Sejumlah anak muda tampak antusias mengikuti tradisi
Sekar Jemparing misalnya, salah satu peserta yang baru pertama kali mengikuti tradisi di lingkungan Keraton, mengungkapkan bahwa Mubeng Beteng adalah jawaban bagi mereka yang lelah dengan hiruk-pikuk kehidupan.

"Kenapa saya ikut ini, satu sisi saya memang merasa butuh waktu untuk menenangkan dan merefleksikan diri ya," tutur Sekar di Yogyakarta.
"Tradisi Mubeng Beteng ini kan untuk itu, untuk merefleksikan diri, kita tenang, mengingat apa yang terjadi. Dan menurut saya, teman-teman generasi muda sekarang juga boleh untuk mencoba itu, untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk, dari deadline, dari apa pun itu" tambahnya.
Senada dengan Sekar, Nurul Amalia, seorang warga asli Yogyakarta, melihat Mubeng Beteng masih relevan dengan generasi muda. Menurutnya tradisi ini merupakan bentuk meditasi modern.

"Anak muda sekarang kan sedang tren dengan istilah healing. Topo Bisu ini sebenarnya meditasi bergerak yang efektif untuk mengeluarkan semua overthinking," tutur Nurul.
Bagi mereka, tidak ada persiapan fisik yang terlalu rumit. Kata Nurul hal utama yang ia siapkan bukanlah stamina, melainkan kesiapan batin.
"Persiapan khusus tidak ada, yang penting mempersiapkan hati yang bersih, membuang rasa amarah, agar bisa melangkah dengan tenang," tambah Nurul.
Antusiasme anak muda yang memadati jalanan benteng Keraton malam itu membuktikan bahwa tradisi tidak harus kaku. Dengan cara memaknainya sebagai momen detoks digital dan refleksi diri, tradisi ini tetap hidup dan relevan.