Anggaran Pakan KBS Diduga Dikorupsi, Seperti Apa Standar Ideal Pakan Satwa?
Anggaran Pakan KBS Diduga Dikorupsi, Seperti Apa Standar Ideal Pakan Satwa? #newsupdate #update #news #text

Eks Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) periode 2016-2024, Chairul Anwar, menjadi sorotan publik usai diduga korupsi anggaran pakan satwa.
Menurut penyidik kejaksaan, akibat korupsi ini membuat fasilitas di KBS menjadi tidak terawat, rusak, serta kotor. Bahkan, kondisi dan kesehatan satwa ikut memprihatinkan akibat pemangkasan anggaran.
Lantas, seperti apa idealnya pakan hewan di kawasan konservasi atau kebun binatang?
Pakar satwa sekaligus dokter hewan Universitas Airlangga (Unair), Boedi Setiawan, mengatakan pakan harian hewan di kebun binatang atau lembaga konservasi memiliki perhitungan sesuai berdasarkan berat badan hewan itu sendiri.
Dalam penjelasannya, Boedi mengambil contoh kebutuhan pakan harimau.
"Jadi untuk perkiraan pakan yang dibutuhkan 5 sampai 10 persen dari berat badan hewannya. Ditimbang saja berat badan harimaunya, misalkan 100 kg, berarti 10 persennya dari 100 kg itu berarti 10 kilo per hari," kata Boedi kepada kumparan, Jumat (24/7).

Boedi menjelaskan, harimau di alam liar mengkonsumsi hewan utuh seperti babi hutan, rusa, atau kancil beserta tulang-tulangnya.
Sehingga, harimau di kebun binatang atau tempat konservasi, juga harus diberikan makanan yang mengandung kalsium. Sebab, jika tidak, bisa menimbulkan masalah kesehatan serius.
"Nah, kalau misalkan di lembaga konservasi biasanya mereka dikasih makannya daging murni. Jadi, tulangnya mereka enggak ada, itu kadang-kadang kekurangan kalsium juga enggak bagus. Hewannya juga kondisinya nanti hipokalsemia, tulangnya kurang bagus ya. Jadi dia bisa pincang ya, bisa cacat kayak gitu, enggak bagus jalannya," jelasnya.
Untuk menyiasati tingginya biaya jika menyediakan pakan hewan utuh seperti di alam liar, Boedi menyarankan agar diselingi dengan tulang sebagai sumber kalsiumnya.
"Misalkan butuh 5 kilo ya, 4 kilo daging, yang 1 kilo ayam sama tulangnya. Atau 2 kilo ayam sama tulangnya gitu, bisa. Proporsional. Intinya ada sumber kalsiumnya di pakannya itu," jelasnya.
Selain harimau, pakan untuk satwa herbivora seperti jerapah juga membutuhkan perhatian khusus. Jerapah membutuhkan pakan tumbuh-tumbuhan sebanyak 10 persen dari berat badannya setiap harinya.
"Dia harus ada tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang diikat di atas itu supaya dia bisa menggapainya, dimakan seperti di alam liarnya, begitu. Itu 10 persen dari berat badannya," ucap dia.

Selain pemenuhan pakan, kata Boedi, pemberian vaksin secara rutin juga harus dipenuhi.
"Jadi untuk harimau vaksinasinya mirip dia dengan kucing, ya. Dia kucing besar, termasuk kucing besar. Jadi vaksinasi virusnya itu, jenis penyakitnya hampir sama dengan kucing-kucing yang kecil itu. Ya, nanti di sana ada penyakit, bisa terkena penyakit distemper. Mirip-mirip dengan kucing kecil," ujarnya.
Selain itu, penyediaan luasan kandang yang memadai bagi hewan juga perlu diperhatikan. Sebab, hal itu bisa memengaruhi kesehatannya.
"Ya kalau di habitat kan mereka kan luas. Nah, kalau di lembaga konservasi kan lahannya terbatas ya. Minimal tidak di dalam kandang yang sempit. Mereka harus ada tempat untuk jalan-jalan, untuk berenang juga ada, ya," terangnya.
"Paling enggak itu kurang lebih mungkin 3 km persegi kalau di alam itu. Bayangkan saja wilayahnya itu. Kalau di dalam kandang kan paling cuma berapa kali berapa, kan. Paling 100 meter x 100 meter kayak gitu," tambahnya.
Menurutnya, indikator utama suksesnya pengelolaan kesejahteraan hewan di kebun binatang adalah kemampuan satwa untuk berkembang biak.
"Pesan saya untuk pihak-pihak yang terkait dengan masalah konservasi, kalau memelihara satwa liar itu sebaiknya diperhatikan kesejahteraan hewan, animal welfare-nya. Kalau memelihara dengan animal welfare, dengan hati, otomatis nanti pasti satwanya akan sejahtera. Itu ditandai dengan mereka akan rutin berkembang biak, kemudian tubuhnya gemuk-gemuk," paparnya.
KBS Klaim Rutin Beri Pakan Satwa: 2 Kali Sehari

Sementara itu, Direktur Operasional dan Umum PDTS KBS, Nurika Widyasanti, mengatakan bahwa pihaknya rutin memberikan pakan satwa di KBS sebanyak dua kali sehari.
"Kalau untuk pemberian pakan sebenarnya ya secara normal ini kita berikan secara rutin sesuai spesies dan karakteristik-karakteristik satwa di mana kita berikan sehari itu dua kali di pagi hari dan di sore hari sebelum para perawat satwa itu meninggalkan tempat," ujar Nurika.
Nurika juga menyampaikan bahwa KBS terus meningkatkan kualitas kesehatan para satwanya.
"Sehingga dapat dilihat di satwa-satwa belakang kami di sini kami juga salah satunya memberikan enrichment (peningkatan kualitas) dalam hal ini istilahnya membuat satwa bertingkah laku secara alami," ucapnya.
"Jadi apa yang disampaikan bila memang secara pemberitaan kekurangan pakan dan lain sebagainya yang bisa kami sampaikan bahwa saat ini kami masih memberikan pakan maupun perawatan dan pemeliharaan satwa secara optimal sesuai dengan kaidah animal welfare atau kesejahteraan satwa," imbuh dia.