News Berita

Anak Perempuan Bukan Jalan Keluar dari Kemiskinan

Kemiskinan tidak akan selesai dengan menikahkan anak perempuan. Justru pendidikan, kesempatan, dan kemandirian adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Anak Perempuan Bukan Jalan Keluar dari Kemiskinan
Ilustrasi anak perempuan.
 Foto: Shutterstock
Ilustrasi anak perempuan. Foto: Shutterstock

Di sebuah rumah sederhana, seorang ayah sedang menghitung pengeluaran bulan ini. Harga beras naik, biaya sekolah anak menunggak, sementara penghasilan tidak bertambah. Di tengah kebingungan itu, datang seorang lelaki yang ingin melamar anak perempuannya.

Tiba-tiba muncul pikiran yang terdengar seperti solusi.

"Kalau menikah, setidaknya beban keluarga berkurang."

Kalimat seperti ini mungkin tidak asing di telinga kita. Di banyak tempat, terutama pada keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, anak perempuan masih sering dipandang sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Ketika kondisi sulit, pendidikan anak perempuan menjadi hal pertama yang dikorbankan. Sekolah dianggap bisa ditunda, sementara pernikahan dianggap bisa menyelesaikan masalah. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Yang sering terjadi justru sebaliknya. Anak perempuan bukan jalan keluar dari kemiskinan. Dalam banyak kasus, mereka justru menjadi korban dari kemiskinan itu sendiri.

Logikanya terlihat sederhana. Jika anak perempuan menikah, jumlah anggota keluarga yang harus ditanggung berkurang. Jika suaminya memiliki pekerjaan yang baik, kehidupan anak dianggap akan lebih terjamin. Namun hidup bukan soal logika sesaat.

Kemiskinan bukan penyakit yang sembuh hanya karena satu orang pindah rumah.

Data menunjukkan bahwa perkawinan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. UNICEF mencatat sekitar 16 persen perempuan Indonesia usia 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun. Artinya, hampir satu dari enam perempuan muda pernah mengalami perkawinan anak.

Angka itu memang menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya. Namun laporan BPS bersama UNICEF dan PUSKAPA menunjukkan bahwa penurunannya berjalan lebih lambat dibanding target yang ingin dicapai Indonesia.

Di balik angka tersebut ada ribuan cerita yang jarang masuk berita; Cerita tentang anak perempuan yang berhenti sekolah, cerita tentang cita-cita yang terpaksa dikubur, cerita tentang masa depan yang berubah arah sebelum benar-benar dimulai.

Ilustrasi anak laki-laki dan perempuan sekolah. Foto: Shutterstock
Ilustrasi anak laki-laki dan perempuan sekolah. Foto: Shutterstock

Masalah terbesar dari perkawinan anak bukan hanya soal usia. Masalah terbesarnya adalah hilangnya kesempatan.

Ketika seorang anak perempuan keluar dari sekolah karena menikah, ia kehilangan akses terhadap pendidikan yang lebih tinggi. Ketika pendidikan terhenti, peluang mendapatkan pekerjaan yang layak ikut mengecil. Ketika peluang kerja mengecil, pendapatan keluarga di masa depan juga ikut terbatas.

Di titik itulah kemiskinan sering diwariskan. Bukan hilang. Hanya berpindah generasi.

Ironisnya, banyak keluarga melakukan itu karena berharap kondisi ekonomi menjadi lebih baik.

Padahal mereka sedang menjual masa depan untuk menyelesaikan masalah hari ini.

Ibarat petani yang menjual bibit padi karena butuh uang makan malam. Memang kebutuhan hari ini terpenuhi. Tetapi kesempatan panen beberapa bulan ke depan ikut hilang.

Yang sering terlupakan adalah bahwa anak perempuan bukan beban ekonomi. Mereka adalah aset pembangunan.

Ilustrasi ibu dan anak perempuan. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
Ilustrasi ibu dan anak perempuan. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Lihatlah kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Banyak keluarga yang bisa bertahan karena perempuan ikut bekerja. Ada yang menjadi guru, perawat, pedagang, pegawai bank, pelaku UMKM, hingga pemilik usaha yang menghidupi banyak orang.

Bahkan tidak sedikit orang tua yang menikmati masa tua yang lebih sejahtera karena anak perempuannya berhasil memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang baik.

Sayangnya, sebagian masyarakat masih memandang pendidikan anak perempuan sebagai biaya, bukan investasi.

Padahal pendidikan adalah salah satu alat paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan.

Ilustrasi anak perempuan pakai anting. Foto: Deltah/Shutterstock
Ilustrasi anak perempuan pakai anting. Foto: Deltah/Shutterstock

Anak perempuan yang mendapatkan pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki pendapatan yang lebih baik, kesehatan yang lebih baik, dan kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh anak-anaknya kelak.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah, "Kapan anak perempuan ini akan menikah?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Kesempatan apa yang sudah kita berikan kepadanya?"

Apakah ia bisa menyelesaikan sekolah? Apakah ia memiliki keterampilan yang cukup? Apakah ia memiliki ruang untuk mengejar cita-citanya?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu masih "belum", maka masalahnya bukan pada anak perempuan tersebut. Masalahnya ada pada kesempatan yang belum kita berikan.

Kemiskinan tidak akan selesai dengan menikahkan anak perempuan lebih cepat. Kemiskinan selesai ketika anak perempuan memiliki akses pendidikan yang baik, kesempatan kerja yang layak, dan kebebasan untuk menentukan masa depannya sendiri.

Sebab setiap kali seorang anak perempuan dipaksa meninggalkan bangku sekolah karena alasan ekonomi, yang hilang bukan hanya satu murid.

Yang hilang bisa jadi seorang guru; Seorang dokter, seorang pengusaha, seorang pemimpin atau seseorang yang sebenarnya mampu mengubah nasib keluarganya.

Dan itu adalah kerugian yang jauh lebih besar daripada biaya sekolah yang ingin dihemat hari ini.

Buka sumber asli