News Berita

Aku Ingin Didengar, Bukan Dihakimi

Mengapa semakin banyak orang memilih bercerita di Close Friends? Mungkin yang kita cari bukan lebih banyak penonton, melainkan lebih sedikit orang yang benar-benar memahami cerita kita.

Aku Ingin Didengar, Bukan Dihakimi
Ilustrasi saat bermedia sosial. Sumber: https://www.istockphoto.com/en/search/2/image?page=5&phrase=people%20with%20mobile%20phone
Ilustrasi saat bermedia sosial. Sumber: https://www.istockphoto.com/en/search/2/image?page=5&phrase=people%20with%20mobile%20phone

Semakin banyak orang yang mengikuti kita di media sosial, semakin sedikit orang yang benar-benar tahu apa yang sedang kita rasakan. Di ruang digital yang membuat satu unggahan bisa dilihat oleh ratusan bahkan ribuan orang, banyak dari kita justru memilih bercerita di lingkaran yang lebih kecil. Bukan karena kehabisan cerita, melainkan karena tidak semua orang terasa aman untuk mendengarnya. Barangkali, yang kita takutkan bukanlah dilihat, tetapi dihakimi oleh orang yang tidak benar-benar memahami apa yang sedang kita alami.

Karena itulah semakin banyak orang menggunakan fitur Close Friends, membagikan unggahan hanya kepada orang-orang tertentu, atau lebih memilih mengirim pesan secara pribadi daripada menuliskannya di linimasa yang dapat dilihat semua orang. Yang berubah bukanlah keinginan kita untuk bercerita, melainkan cara kita memilih kepada siapa cerita itu disampaikan.

Saya mulai memahami perubahan itu ketika beberapa teman memasukkan saya ke dalam daftar Close Friends mereka. Dari sanalah saya melihat sisi yang hampir tidak pernah muncul di akun utama. Mereka bercerita tentang rasa lelah setelah bekerja, kecemasan menghadapi masa depan, kebingungan menentukan arah hidup, hingga kegagalan yang sedang mereka alami. Hal-hal seperti itu jarang muncul di ruang publik, bukan karena mereka ingin berpura-pura baik-baik saja, tetapi karena mereka merasa tidak semua orang perlu mengetahui apa yang sedang mereka hadapi.

Pengalaman tersebut mengubah cara pandang saya. Kita tetap ingin didengar, dipahami, dan merasa terhubung dengan orang lain. Namun, di tengah media sosial yang mempertemukan berbagai kelompok dalam satu ruang, memilih pendengar bukan lagi sekadar soal privasi. Sering kali, itu menjadi cara melindungi diri dari penilaian orang yang tidak memahami konteks hidup kita.

Dari situlah muncul pertanyaan yang menurut saya menarik. Mengapa semakin banyak orang memilih bercerita kepada lingkaran yang lebih kecil, padahal media sosial diciptakan untuk menghubungkan kita dengan semakin banyak orang? Apakah fenomena ini menunjukkan bahwa kita menjadi lebih tertutup, atau justru lebih bijak dalam menentukan kepada siapa kita ingin didengar?

Setelah memikirkan pertanyaan tersebut, saya menyadari bahwa jawabannya mungkin bukan karena manusia semakin enggan membuka diri. Sebaliknya, kita semakin sadar bahwa tidak semua orang memahami sebuah cerita dengan cara yang sama. Di media sosial, satu unggahan dapat dilihat oleh keluarga, teman sekolah, rekan kerja, dosen, tetangga, hingga orang yang mungkin hanya pernah kita temui sekali. Padahal, setiap kelompok memiliki kedekatan, harapan, dan cara pandang yang berbeda terhadap diri kita.

Menggambarkan situasi ketika berbagai kelompok dalam kehidupan kita bertemu dalam satu ruang digital yang sama. Akibatnya, satu unggahan tidak lagi ditujukan kepada satu kelompok tertentu, melainkan kepada banyak orang yang memiliki hubungan dan sudut pandang berbeda. Semakin beragam orang yang melihat sebuah unggahan, semakin besar pula kemungkinan cerita itu disalahpahami atau dihakimi di luar konteksnya.

Bayangkan seseorang mengunggah keluh kesah tentang pekerjaannya. Bagi sahabatnya, unggahan itu mungkin hanya dianggap sebagai cara melepas penat. Namun, ketika unggahan yang sama dibaca oleh rekan kerja atau atasan, maknanya bisa berubah. Hal yang dimaksud sebagai bentuk kejujuran dapat dianggap sebagai keluhan, pencitraan, atau bahkan mencari perhatian. Ketidakpastian inilah yang membuat banyak orang mulai berpikir dua kali sebelum membagikan cerita yang lebih personal.

Penelitian Jessica Vitak (2012) menunjukkan bahwa kondisi seperti ini membuat pengguna media sosial lebih berhati-hati dalam mengelola apa yang mereka bagikan. Salah satu caranya adalah memanfaatkan fitur Close Friends agar mereka tetap bisa bercerita kepada orang-orang yang dipercaya tanpa merasa setiap unggahan akan dinilai oleh semua orang yang mengikuti akun mereka. Dengan kata lain, pembatasan audiens bukan sekadar memanfaatkan fitur media sosial, tetapi juga menjadi strategi untuk menjaga kenyamanan ketika membuka diri.

Keputusan memilih pendengar juga dapat dipahami melalui Communication Privacy Management Theory yang dikembangkan Sandra Petronio. Teori ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki batas privasi (privacy boundaries) yang mereka kelola. Membuka diri bukan berarti membagikan seluruh kehidupan kepada semua orang, melainkan menentukan siapa yang layak menerima informasi tertentu. Dengan kata lain, kita tidak sedang menyembunyikan diri, tetapi memilih kepada siapa kita merasa cukup aman untuk memperlihatkan sisi yang lebih personal.

Penelitian SoeYoon Choi (2021) memperkuat penjelasan tersebut. Sebelum membagikan informasi pribadi di media sosial, seseorang biasanya mempertimbangkan siapa yang akan melihat unggahannya, seberapa dekat hubungan mereka, dan bagaimana kemungkinan cerita itu diterima. Karena itulah banyak orang merasa lebih nyaman menggunakan Close Friends ketika ingin membagikan pengalaman yang sifatnya pribadi. Yang mereka cari bukan hanya privasi, tetapi juga rasa aman dari penilaian orang yang tidak benar-benar memahami konteks hidup mereka.

Penjelasan tersebut juga sejalan dengan konsep dramaturgi dari Erving Goffman. Menurut Goffman, setiap orang menampilkan dirinya secara berbeda bergantung pada siapa yang menjadi pendengarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu tidak berbicara kepada sahabat dengan cara yang sama seperti kepada dosen atau atasan.

Perbedaan itu bukan berarti kita memiliki dua kepribadian, melainkan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan situasi yang sedang dihadapi. Media sosial tidak menghilangkan proses itu. Justru sebaliknya, media sosial membuat berbagai situasi tersebut hadir dalam satu tempat pada waktu yang bersamaan. Karena itu, meningkatnya penggunaan Close Friends tidak menunjukkan bahwa manusia semakin tertutup.

Fenomena ini justru menunjukkan bahwa kita semakin sadar setiap cerita memiliki pendengarnya sendiri. Di tengah ruang digital yang semakin terbuka, memilih kepada siapa kita ingin didengar menjadi bagian dari cara kita menjaga kenyamanan dalam berkomunikasi.

Berbagai penjelasan tersebut membuat saya memahami bahwa yang berubah bukanlah keinginan manusia untuk bercerita. Kita tetap ingin didengar, dipahami, dan merasa terhubung dengan orang lain. Yang berubah adalah cara kita memilih kepada siapa cerita itu disampaikan. Di media sosial yang mempertemukan begitu banyak orang dalam satu ruang, memilih pendengar menjadi bagian dari cara kita menjaga kenyamanan saat membuka diri.

Bagi saya, penggunaan Close Friends bukan berarti seseorang memiliki dua kepribadian atau sedang berpura-pura menjadi orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga tidak berbicara dengan cara yang sama kepada orang tua, sahabat, dosen, atau rekan kerja. Perbedaan itu bukan bentuk kepalsuan, melainkan cara manusia menyesuaikan diri dengan hubungan dan situasi yang sedang dihadapi. Media sosial hanya membuat batas-batas tersebut menjadi lebih tipis sehingga siapa pun dapat menjadi penonton dari cerita yang sebenarnya tidak ditujukan untuk mereka.

Cara teman-teman saya menggunakan Close Friends juga mengubah cara pandang saya. Awalnya, saya mengira fitur itu hanya digunakan untuk menyembunyikan sesuatu dari publik. Namun, semakin sering saya melihat cerita yang mereka bagikan, semakin saya memahami bahwa yang mereka cari bukanlah tempat untuk bersembunyi, melainkan ruang untuk berbicara kepada orang yang mau memahami sebelum menilai.

Ironisnya, media sosial membuat kita semakin mudah terhubung, tetapi semakin sulit merasa aman untuk bercerita. Semakin luas jangkauan sebuah unggahan, semakin besar pula kemungkinan cerita itu dipahami di luar konteksnya. Karena itulah, memilih pendengar menjadi sama pentingnya dengan memilih cerita yang ingin dibagikan. Penggunaan Close Friends, pada akhirnya, bukan menunjukkan bahwa manusia semakin tertutup, melainkan cara baru menjaga keberanian untuk tetap terbuka di tengah ruang digital yang semakin terbuka.

Barangkali, media sosial tidak pernah mengubah kebutuhan kita untuk bercerita. Yang berubah hanyalah cara kita memilih pendengarnya. Di tengah ruang digital yang memungkinkan satu cerita menjangkau begitu banyak orang, kita semakin memahami bahwa tidak semua cerita harus dibagikan kepada semua orang. Mungkin, yang selama ini kita cari bukanlah lebih banyak orang yang melihat cerita kita, melainkan lebih sedikit orang yang benar-benar memahami cerita itu.

Buka sumber asli