News Berita

Aku Bisa Sendiri: Strong Independent Child dan Akar Emotional Neglect

Bangga bisa survive sendirian? Tapi kalau minta tolong aja rasanya nggak aman, itu bukan cuma mandiri, itu hyper-independence. Kenali bedanya.

Aku Bisa Sendiri: Strong Independent Child dan Akar Emotional Neglect
Foto:  via Unsplash
Foto: Alghozy via Unsplash

“Aku bisa handle sendiri.”

“I don’t need anyone, I have myself.

Familiar? Mungkin kamu pernah bilang sendiri atau lihat ratusan kali di FYP. Di TikTok, konten tentang “I don’t need anyone” ditonton jutaan kali. Di X, “unbothered” menjadi identitas yang dirayakan. Bagi sebagian Gen Z, romantisasi kemandirian kadang muncul bukan semata karena kebanggaan, tetapi juga dari pengalaman emosional yang belum sepenuhnya dipahami.

Kamu bangga bisa survive sendirian. Tapi pernahkah kamu bertanya: siapa yang mengajarimu bahwa meminta tolong itu berbahaya?

Bukan Mandiri, Ini Hyper-Independence

Tidak ada yang salah dengan bisa mengurus diri sendiri. Tapi ada versi lain dari kemandirian yang perlu kita kenali, yaitu hyper-independence. Dalam literatur psikologi klinis, hyper-independence sering digunakan untuk menggambarkan pola perilaku ketika seseorang kesulitan bergantung pada orang lain, termasuk kecenderungan menolak bantuan bahkan ketika mereka membutuhkannya, karena bagi mereka meminta tolong terasa tidak aman, memalukan, dan tidak perlu. Seseorang mungkin bisa terlalu mandiri karena ia belajar bahwa ia tidak dapat mempercayai orang lain, sehingga hanya dapat mengandalkan diri sendiri dan menciptakan batasan yang kaku dari orang lain. Di sisi lain, kemandirian yang sehat artinya seseorang mampu mengurus dirinya sendiri dan tahu kapan harus meminta bantuan.

Dalam kerangka attachment theory yang dikembangkan oleh John Bowlby, pola ini sering dipahami sebagai compulsive self-reliance, bahwa kemandirian yang muncul lahir dari pembelajaran yang berlangsung sejak kecil bahwa bergantung kepada orang lain itu tidak aman. Dalam sebagian kasus, ketika anak terus-menerus mencari respons emosional dan tidak mendapatkannya, dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya pola avoidant attachment, artinya ia belajar menekan kebutuhannya sendiri bahkan dari dirinya sendiri.

Emotional Neglect

Psikolog Jonice Webb, PhD. dalam bukunya Running On Empty: Overcome Your Childhood Emotional Neglect (2013), medefinisikan Childhood Emotional Neglect (CEN) sebagai kegagalan orang tua dalam merespons, hadir, dan memperhatikan kebutuhan emosional anak. CEN sulit dikenali karena bukan soal kejadian traumatis yang dramatis, tetapi tentang apa yang tidak terjadi. Webb menyebut bahwa anak yang emosinya diabaikan, secara tidak langsung diajarkan bahwa perasannya itu tidak penting, sehingga mereka belajar menyembunyikan perasaannya itu bahkan dari diri mereka sendiri.

Tidak ada yang menanyakan perasaanmu. Tidak ada yang duduk menemanimu saat sedih. Atau mungkin setiap kali kamu menangis, itu dianggap terlalu berlebihan. Setiap kali butuh dukungan, kamu diajarkan untuk mengurus dirimu sendiri. Kamu belajar bahwa perasaanmu bukan urusan siapa pun, bahkan bukan sesuatu yang perlu divalidasi oleh dirimu sendiri.

Menurut Webb, salah satu dampak umum dari CEN adalah anak yang tumbuh menjadi orang yang sangat pandai mengurus dirinya sendiri. Tetapi ia tidak tahu cara meminta bantuan, tidak tahu cara menerima kasih sayang, dan seringkali tidak mengenali kebutuhan emosionalnya sendiri.

Ketika seorang anak berulang kali mencari koneksi emosionalnya dan tidak menemukannya, otak mulai menyimpulkan bahwa bergantung kepada orang lain merupakan suatu hal yang berisiko. Bukan berarti anak berhenti membutuhkan kasih sayang atau kedekatan, melainkan mereka hanya belajar menyembunyikan kebutuhan itu, bahkan dari diri mereka sendiri.

Gen Z dan Budaya yang Meromantisasi “Gak Butuh Siapa pun”

Bagi sebagian Gen Z, terutama yang tumbuh dalam keluarga yang kurang ruang untuk emosi, ada dua tekanan yang saling memperkuat. Pertama, pola asuh dari generasi sebelumnya yang sering merespons emosi dengan kalimat seperti "jangan cengeng," "masalah kecil kok dibesar-besarkan," atau "selesaikan sendiri." Emosi dianggap sebagai suatu hal yang berlebihan.

Kedua, media sosial yang ikut membentuk standar baru tentang bagaimana seseorang seharusnya terlihat. Emotional detachment terlihat elegan. Menjadi low maintenance friend, tidak bergantung pada siapa pun, tampak tidak membutuhkan siapa pun, dan selalu terlihat unbothered sering kali dianggap keren dan dewasa. Padahal, tidak semua bentuk kemandirian lahir dari rasa aman. Sebagian lahir dari pengalaman emosional yang membuat seseorang percaya bahwa bergantung kepada orang lain hanya akan berakhir dengan kekecewaan.

Menurut laporan World Mental Health Today yang dirilis WHO pada September 2025, lebih dari 1 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental dan sebagian besar tidak mendapat pertolongan yang memadai. Pada sebagian Gen Z, kesenjangan ini muncul mungkin bukan hanya karena keterbatasan akses, tetapi juga karena keyakinan yang sudah tertanam sejak lama bahwa mereka seharusnya mampu untuk menyelesaikannya sendiri.

Hyper-independence kemudian terasa seperti kekuatan. Kamu yang tidak pernah merepotkan orang lain. Kamu yang selalu punya solusi. Kamu yang baik-baik saja, bahkan ketika sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Sering kali tandanya muncul secara halus, misalnya merasa bersalah ketika meminta bantuan, bingung ketika ditanya "kamu butuh apa?", atau merasa lebih nyaman menolong orang lain daripada menerima pertolongan.

Seperti dalam The Body Keeps the Score, Bessel van der Kolk, menulis bahwa “The challenge of recovery is to reestablish ownership of your body and your mind, of your self.” Dan pemulihan itu dimulai dari hal sederhana, yaitu menyadari bahwa sekarang mungkin sudah cukup aman untuk memulai.

Menyadari bahwa kemandirianmu berakar dari pengalaman yang menyakitkan, berarti akhirnya kamu memiliki kesempatan untuk memilih, bukan sekadar bereaksi dari luka lama. Meminta tolong bukanlah suatu kelemahan. Bagi sebagian orang, itu merupakan hal yang dulu terasa tidak cukup aman untuk dilakukan.

Langkah kecilnya bisa dimulai dengan sesuatu yang sederhana, seperti jika ada yang bertanya “kamu baik-baik saja?”, coba jawab dengan jujur, meski hanya sedikit. Atau saat kamu membutuhkan sesuatu, coba beri tahu apa yang kamu butuhkan walaupun tidak perlu semuanya, cukup satu hal. Hal sederhana ini akan membuat tubuh dan pikiran belajar bahwa meminta tolong tidak selalu berakhir dengan kekecewaan.

Karena sebagian anak tumbuh mandiri karena mereka merasa tidak punya pilihan lain. Mungkin sekarang perlahan kamu bisa mulai belajar bahwa keadaan sudah lebih aman daripada sebelumnya.

___________________________________________________________________

Oleh Dzikra Almayda Patra, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.

Buka sumber asli