News Berita

71 Tahun Asia-Afrika: Menjemput Masa Depan di Tengah Badai Geopolitik

Refleksi 71 thn KAA: Reaktualisasi Dasasila Bandung lewat "Mineral-for-Peace", Kedaulatan Digital & Konstitusi Hijau demi Indonesia Berdikari di tengah badai geopolitik 2026.

71 Tahun Asia-Afrika: Menjemput Masa Depan di Tengah Badai Geopolitik
Sambut peringatan Konferensi Asia Afrika  Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Sambut peringatan Konferensi Asia Afrika Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Tepat hari ini, 18 April 2026, udara di Gedung Merdeka, Bandung, mungkin masih menyimpan sisa-sisa getaran suara dari masa lalu. Tujuh puluh satu tahun yang lalu, Bung Karno berdiri di sana, menyuarakan sebuah janji bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika tidak akan lagi menjadi sekadar "catatan kaki" dalam sejarah dunia.

Namun, saat kita berdiri di ambang pintu sejarah hari ini, kita mendapati diri kita berada dalam sebuah interregnum—sebuah masa di mana tatanan dunia lama sedang runtuh, tetapi tatanan baru masih berjuang untuk lahir di tengah kegelapan krisis global yang tumpang tindih.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan yang membara di Selat Hormuz saat ini bukan sekadar berita di layar televisi; ia adalah alarm bagi ketahanan energi kita. Sebagaimana catatan International Energy Agency (2026) mengenai volatilitas harga minyak, gangguan di jalur nadi tersebut telah memicu riak ekonomi yang sampai ke dapur rakyat Indonesia.

Namun, sebagai bangsa maritim, kita harus menyadari bahwa tantangan sesungguhnya ada di halaman rumah kita sendiri. Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) kini menjadi magnet bagi kekuatan besar dunia. Di sinilah letak ironi geopolitik kita: posisi strategis yang seharusnya menjadi anugerah, jika tidak dikelola dengan semangat Dasasila Bandung yang menolak pakta militer kolektif, justru berisiko menjadikan perairan kita sebagai arena proksi kekuatan hegemonik.

Di tengah turbulensi tersebut, Indonesia memiliki kartu truf yang tidak dimiliki bangsa lain: kedaulatan atas mineral kritis. Di era transisi energi ini, nikel dan tanah jarang telah menjadi "senjata baru" dalam diplomasi global. Namun, sejarah panjang kolonialisme telah mengajarkan kita bahwa kekayaan alam seringkali menjadi magnet bagi penindasan baru.

Oleh karena itu, saya menawarkan paradigma "Mineral-for-Peace". Ini bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan sebuah pernyataan politik bahwa kekayaan bumi Indonesia harus menjadi alat tawar untuk memaksa dunia agar lebih adil. Kita menuntut transfer teknologi dan kesetaraan nilai tambah, menolak menjadi sekadar penyedia bahan mentah bagi kemakmuran bangsa lain di Utara. Kita harus berani menegaskan bahwa kedaulatan ekonomi adalah fondasi dari kedaulatan politik.

Namun, penjajahan di abad ke-21 tidak lagi selalu menggunakan senjata atau kapal perang. Ia kini menyusup melalui serat optik dan manipulasi kognitif. Kita sedang menghadapi "neokolonialisme data" di mana algoritma global mampu mendikte preferensi publik hingga memecah belah persatuan bangsa. Kedaulatan digital kini menjadi benteng terakhir kita.

Melalui pendekatan Sovereignty-by-Design, kita harus membangun kedaulatan informasi yang mandiri. Semangat Bandung untuk "memajukan kepentingan bersama" harus diterjemahkan menjadi upaya kolektif negara-negara berkembang untuk merebut kembali otonomi atas data dan identitas digital kita sendiri dari cengkeraman raksasa teknologi lintas batas.

Perjuangan ini pada akhirnya akan membawa kita kembali ke akar yang paling dasar: Bumi Pertiwi. Reaktualisasi semangat KAA hari ini tidak akan lengkap tanpa menyentuh aspek ekologis. Inilah saatnya kita menggaungkan urgensi Konstitusi Hijau (Green Constitution). Di era Antroposen ini, kedaulatan sebuah bangsa hancur ketika ekosistemnya runtuh.

Gagasan mengenai Personifikasi Alam—menempatkan entitas ekosistem penting sebagai subjek hukum yang memiliki hak—adalah jawaban kita terhadap kerusakan lingkungan sistemik. Dengan memuliakan alam sebagai subjek hukum, kita menegaskan bahwa kedaulatan sejati tidak hanya melindungi manusia yang hidup hari ini, tetapi juga menjamin hak-hak generasi mendatang atas air yang jernih dan udara yang bersih.

Tujuh puluh satu tahun telah berlalu sejak fajar di Bandung itu menyingsing. Tugas kita sebagai anak Indonesia saat ini bukan hanya mengenang sejarah, melainkan menjadi aktor yang memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi mercusuar bagi Global South. Kita harus berani mengatakan "Tidak" pada tekanan hegemonik, dan mengatakan "Ya" pada kerja sama yang setara dan bermartabat.

Karena pada akhirnya, dunia hanya akan benar-benar damai jika ia dibangun di atas landasan keadilan, bukan di atas kekuatan militer atau dominasi ekonomi belaka. Semangat Bandung harus terus menyala, menjadi kompas bagi kita untuk terus melangkah menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat dan berdikari.

Buka sumber asli